ANTARA ISTILAH “PENELITIAN” DAN ISTILAH “KRITIK” DALAM KAJIAN ILMU HUMANIORA

Istilah penelitian sering diasosiasikan pada suatu konteks keilmiahan tertentu. Ini umpamanya yang tercantum pada Oxford English Dictionary, bahwa penelitian merupakan “pencarian atau penyelidikan yang diarahkan pada penemuan fakta dengan pengkajian yang sangat hati-hati atas sebuah subjek; sebuah pelajaran tentang penyelidikan kritis atau ilmiah”. Definisi seperti ini mengikat pemahaman banyak orang bahwa yang dinamakan penelitian selalu berurusan dengan “temuan” atau “penemuan” akan hal-hal baru, padahal penelitian bukanlah sekadar bagaimana menemukan sesuatu; yang jaush lebih penting dari suatu konteks penelitian adalah pemahaman dan penafsiran peneliti terhadap subjek atau objek yang ditelitinya. Argumen ini sejalan dengan pernyataan Whitney (dalam Suprayogo dan Tobroni, 2001: 6) yang mengemukakan bahwa penelitian adalah pencarian atas sesuatu secara sistematis dengan penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dapat dipecahkan. Jadi konteks pencarian dalam definisi Whitney bukanlah diarahkan untuk “menemukan” fakta-fakta baru atau membuat “temuan-temuan” baru, tetapi lebih diarahkan untuk memecahkan masalah; dan, memecahkan masalah berarti memahami objek dan sekaligus menafsirkannya agar orang lain menjadi tahu.

Memecahkan masalah berarti juga membuat pemahaman dan penafsiran itu menjadi suatu yang sistematis, terarah, dan terstruktur, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kata “ilmiah” dan “keilmiahan” dalam penelitian juga bukannya tanpa masalah, karena antara satu disiplin ilmu dan disiplin ilmu lainnya memiliki kriteria keilmiahan yang berbeda. Tidak dikatakan ilmiah misalnya, jika ilmuwan matematika belum melibatkan rumus-rumus statistik dalam penghitungan, pengukuran, dan pengujian variabel-variabel hipotesis. Tetapi bagi para sarjana kimia dan kedokteran misalnya, penghitungan berdasarkan rumus statistik saja tidak cukup untuk disebut ilmiah, maka perlu adanya eksperimen dan pengujian empiris di laboratorium. Bagi ilmuwan sosial lain lagi, penelitian mereka bisa dipandang ilmiah jika benar-benar melibatkan masyarakat yang ditelitinya, yang tentunya akan berbeda pula kriteria keilmiahannya dengan sarjana-sarjana humaniora. Bagi yang disebut terakhir ini, penelitian akan menjadi ilmiah jika terdapat penafsiran yang komprehensif terhadap objek yang diteliti berdasarkan nilai-nilai yang diambil dari objek tersebut.

Perbedaan kadar atau kriteria keilmiahan ini memang merupakan hal yang wajar karena berasal dari perbedaan objek yang diteliti dari masing-masing disiplin ilmu. Kewajaran ini kemudian harus dipahami juga dalam konteks pengkajiannya yang berimplikasi pada perbedaan metodologi. Dalam ilmu humaniora, khususnya bidang bahasa, sastra, filsafat, dan kebudayaan, metodologi akan selalu bersandar pada paradigma relatif atas sebuah kebenaran; bahwa kebenaran dalam satu konteks keilmiahan tidak harus menjadi sebuah kebenaran universal. 2 + 2 dalam matematika dan ilmu eksakta lainnya akan selalu sama dengan 4. Namun, dalam ilmu humaniora, 2 + 2 berarti “mudah-mudahan” sama dengan 4. Hal ini kemudian menjadi paradigma berpikir ilmu humaniora secara umum, sehingga sebuah “kebenaran” pada dasarnya hanyalah sebuah “klaim” dari segolongan orang yang menganggap pemikirannya “benar”, yang belum tentu “benar” bagi yang lainnya.

Dari konteks inilah muncul istilah “kritik” (criticism) dalam ilmu humaniora, yaitu seperti yang diungkapkan Roland Barthes sebagai “an activity or a series of intellectual acts profoundly committed to the historical and subjective existence (they are the same thing) of the man who performs them” (dalam Con Davis & Schleifer, 1994: 46). Barthes kemudian melanjutkan bahwa objek dari kritik bukanlah “dunia” melainkan “wacana” yang melingkupi dunia dan orang-orang di dalamnya. Dengan kata lain, objek dari kritik adalah “klaim-klaim kebenaran” yang dipandang sebagai suatu hal yang universal, karena klaim-klaim itu muncul bukan sebagai dunia yang objektif dan mandiri, melainkan dikonstruksi sebagai wacana yang melingkupi dunia itu. Di sinilah kita kemudian dapat membedakan kriteria keilmiahan selanjutnya dari ilmu humaniora; bahwa yang disebut ilmiah adalah ketika kita mempertanyakan dan/atau mempermasalahkan klaim kebenaran yang selama ini sudah terkonstruksi berikut menafsirkannya melalui pelbagai macam sudut pandang konsep dan teori.

Istilah kritik kemudian menjadi semacam istilah pengganti bagi “penelitian” dalam ilmu humaniora. Sepanjang kritik dipahami sebagai “serangkaian tindakan intelektual” seperti yang dipahami Barthes, maka kritik adalah sama dengan penelitian. Melakukan kritik berarti melakukan penelitian, dan orang yang mengkritik (kritikus) berarti sama dengan peneliti. Dalam ilmu humaniora, sebagaimana diungkapkan John Ushworth (2005), penelitian kemudian adalah aktivitas yang dapat dicirikan oleh empat R, yaitu reading (pembacaan), writing (penulisan), reflection (pertimbangan/penafsiran), dan rustication (penilaian/penghakiman); dan semua ini adalah tahapan dari sebuah kritik.

Sebagai bagian dari ilmu humaniora, sastra kemudian lebih mengambil istilah kritik ketimbang penelitian. Sehingga muncullah istilah “kritik sastra”, yaitu penyelidikan yang langsung berurusan dengan suatu karya sastra tertentu, yang tidak hanya menimbang bernilai atau tidaknya suatu karya, tetapi juga harus memberikan penafsiran, penjelasan, dan penguraian (Andre Hardjana, 1994: 37). Alasan bahwa para akademisi sastra lebih memilih istilah kritik sastra dibanding penelitian sastra karena objek yang diteliti merupakan sebentuk wacana yang dikonstruksi oleh para pengarang (sastrawan) dan tertuang dalam bentuk karya sastra, apapun jenisnya. Karena objek penelitian sastra adalah sebentuk wacana yang dikonstruksi pengarang,sedangkan pengarang merupakan sosok yang tak dapat dilepaskan dari konteks kehidupannya, maka penelitian sastra harus bisa menghasilkan suatu penafsiran yang komprehensif mengenai hubungan antara struktur wacana yang ada dalam karya sastra dengan struktur kehidupan yang melingkupi hadirnya karya itu. Oleh karena itu hasil penelitian sastra terkadang harus ideologis dan interdisipliner; ideologis berarti peneliti harus membiarkan dirinya larut bersama dan/atau membongkar nilai-nilai dalam struktur wacana yang dikonstruksi itu, dan interdisipliner berarti menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan pelbagai macam sudut pandang konsep dan teori dari berbagai disiplin ilmu. Maka, tidak heran jika dalam penelitian sastra kita dapati hubungan-hubungan antara Plato dengan sastra, Sigmund Freud dengan sastra, Karl Marx dengan sastra, Max Weber dengan sastra, Amien Rais dengan sastra, Gus Dur dengan sastra, dan lain-lainnya.

By. Dian Nurrachman
Dosen Sastra Inggris
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: