Pengajaran Bahasa untuk Mencintai Bahasa Lokal

Pendidikan dan pengajaran merupakan dua proses yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut dikarenakan keduanya mengacu pada proses yang sama, yakni mengubah sikap dan kemampuan peserta didik dan pembelajar menjadi lebih baik setelah mengalami atau mengikuti proses tersebut. Secara spesifik, pendidikan memiliki target tersendiri dari pengajaran, pendidikan lebih tertuju pada pengubahan sikap pribadi yang lebih baik sedangkan pengajaran lebih tertuju pada pengubahan pengetahuan dan keterampilan. Karenanya, keduanya mesti berjalan bersama, sejajar, dan searah.

Dari awal keberadaan manusia, eksistensi pendidikan dan pengajaran memiliki porsi yang cukup signifikan, bahkan hampir keseluruhan bidang dimulai terlebih dari proses pendidikan dan pengajaran. Akan tetapi eksis yang besar tersebut pada masa terdahulu tidak diimbangi oleh akses yang memadai sehingga proses tidak bejalan dengan baik. Pendidikan pada masanya telah mengalami rotasi sehingga pengajaran terkesan menjadi tidak lebih penting, namun beberapa dekade terakhir tampaknya pengajaran kian tenggelam sehingga pengajaran lebih mampu mengendalikan proses memanusiakan manusia. Akibatnya, manusia lebih condong kepada hal-hal yang sifatnya eksak, abstrak serta verifikasi (aksiologi) sehingga justifikasi tidak berdasarkan humanisme atau setidaknya naturalis. Pengesampingan tersebut jelas sekali berakibat fatal, manusia terbentuk menjadi pribadi-pribadi individualis. Oleh karena itu, pendidikan dan pengajaran mestilah berjalan berimbang, tidak timpang sebelah.

Demikian pula dalam bidang kebahasaan, perlu ditekankan adanya keseimbangan antara pendidikan dan pengajaran bahasa. Penyeimbangan porsi dalam hal ini diperlukan karena adanya beberapa hal penting yang patut diperhatikan, baik oleh pribadi maupun oleh masyarakat. Bukan hanya dalam pendidikan dan pengajaran bahasa saja, akan tetapi mencakup pula bahasa yang diajarkan, yakni bahasa ibu, bahasa kedua, dan juga bahasa asing. Menilik pada bahasa yang diajarkan, pendidikan dan pengajaran menjadi sangat vital untuk diperhatikan.

Di Indonesia, tampaknya pendidikan dan pengajaran bahasa tidak membedakan antara bahasa yang diajarkan, sehingga beberapa hal negatif mulai bermunculan. Masalah utama yang sangat patut dibicarakan adalah adanya pergeseran paradigma perihal bahasa di institusi dan masyarakat. Secara institusional, mengindonesiakan anak Indonesia merupakan tujuan pemerintah untuk menanamkan kecintaan kepada apa-apa yang menjadi karakter Indonesia, terutama tentu hal-hal yang berkenaan dengan adat-istiadat dalam sosial dan budaya. Namun, setelah beberalama di lapangan, ditemukan bahwa pendidikan dan pengajaran bahasa rupanya memiliki kendala yang cukup besar, tidak hanya dari sisi dalam bahasa tetapi juga faktor dari luar bahasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: