Perempuan dan Ketiak Laki-Laki (Dalam Revisi)

proses kelahiran karya sastra diprakondisi oleh kode sosial budaya yang melingkup pengarang. Pernyataan tersebut dengan mudah kita temukan dalam karya-karya sastra yang ada di sekeliling kita; pengarang mempunyai kebebasan memberikan citra, gambaran tertentu terhadap tokoh, tetapi dalam banyak hal tampak terpengaruh oleh kondisi sosial budaya yang melingkupi kehidupannya. Pengarang yang berdarah Jawa dan beragama Islam, misal, dalam karya tulisnya tentu akan mudah ditemukan hal-hal yang berkaitan dengan Jawa atau pun Islam.

I

A. Latar Belakang

Chatman sebagaimana dikutip Adib (2009:3) menyatakan bahwa proses kelahiran karya sastra diprakondisi oleh kode sosial budaya yang melingkup pengarang. Pernyataan tersebut dengan mudah kita temukan dalam karya-karya sastra yang ada di sekeliling kita; pengarang mempunyai kebebasan memberikan citra, gambaran tertentu terhadap tokoh, tetapi dalam banyak hal tampak terpengaruh oleh kondisi sosial budaya yang melingkupi kehidupannya. Pengarang yang berdarah Jawa dan beragama Islam, misal, dalam karya tulisnya tentu akan mudah ditemukan hal-hal yang berkaitan dengan Jawa atau pun Islam.

Perihal sosial dan budaya akan senantiasa memengaruhi pengarang. Patriarkal merupakan salah satu budaya yang hingga pada hari ini masih berpengaruh terhadap karya-karya sastra, baik dalam rangka ‘tanpa sengaja’ membela maupun menghujat dan tentu terdapat pula karya sastra yang cenderung moderat. Namun, hingga saat ini ‘tema’ patriarkal merupakan salah tema yang senantiasa hangat dalam karya sastra.

Kajian patriarkal yang termuat dalam karya sastra dimulai pengkajiannya (kritik) ketika lahir dari hasil pengamatan dan anggapan adanya masalah dalam hal seks dan jender. Berkaitan dengan aliran kritik ini, Peter Barry (2010:258) menyatakan bahwa diantara hal pokok yang dipersoalkan adalah pertanyaan apakah laki-laki dan perempuan ‘secara hakiki’ berbeda disebabkan oleh biologi, atau secara sosial dikonstruksi agar berbeda. Pengertian biologi dimaksudkan bahwa seks atau jenis kelamin merupakan penyifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu. Jenis kelamin ini secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis. Sementara itu, konsep jender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Hal kedua inilah yang kemudian menjadi stimulus lahirnya kritik yang disebut feminisme.

Melirik ke Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini feminisme telah merambah dunia sastra Indonesia. Tidak hanya karya sastra, kritik sastra pun demikian turut meramaikan ke-feminisme-an sastra Indonesia. Hal ini merepresentasikan adanya kesadaran bahwa fenomena keperempuanan dalam karya sastra kian diungkap dan dijelaskan kepada masyarakat.

Setidaknya, terdapat tiga hal yang melandasi penyelidikan ini dilakukan. Pertama, kesadaran kritikus tentang “citra perempuan dalam sastra Indonesia” masih tergolong rendah atau langka, dengan demikian tulisan ini merupakan salah satu bagian untuk ikut serta meramaikan dan tentu menambah khazanah. Kedua, fenomena feminis di Indonesia yang digambarkan dalam sastra kian mencolok, ini terbukti dengan lahirnya sastrawati seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Naning Pranoto, dkk. Dengan demikian, untuk mengimbangi karya sastra, kritik sastra perlu menjangkau lebih tema-tema yang diangkat oleh karya sastra. Meski terkesan mengikuti, namun inilah yang dapat dilakukan kritikus ‘sementara waktu’. Ketiga, memperbandingkan kondisi perempuan jaman baheula dengan perempuan kini merupakan langkah yang tepat untuk membaca, memetakan, dan kemudian memenilai perempuan Indonesia.

B. Rumusan dan Batasan

Penyelidikan terhadap cerpen ini mendeskripsikan kondisi perempuan Indonesia, tentu melalui cermin cerpen tersebut. Dalam bingkai ini, masalah yang dibahas hanyalah masalah-masalah yang sifatnya feminin. Tentu tidak hanya terbatasi oleh perempuan dan lingkungannya, akan tetapi diambil pula sudut pandang lawan yakni ‘laki-laki’ terhadap perempuan.

Penyelidikan ini dapat dirumuskan dalam dua pertanyaan yang nantinya ia juga merupakan batasan masalah yang akan dibahas sehingga pembahasan tidak melebar atau terlalu umum. Dua pertanyaan tersebut diantaranya :

  1. Memperhatikan pada cerpen, terdapat beberapa kondisi yang menggambarkan keadaan dan keberadaan perempuan di hadapan laki-laki, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Bagaimana gambaran tersebut dimuat dalam cerpen?
  2. Laki-laki dan perempuan tidak pernah terlepas satu sama lain. Dalam berhubungan, keduanya memiliki nilai dan menilai. Bagaimana penilaian laki-laki terhadap perempuan—dan sebaliknya—sebagaimana tercermin dalam cerpen?

C. Tujuan

Penyelidikan ini dimaksudkan untuk memenuhi dua tujuan, yakni tujuan teoritis dan tujuan praktis. Pertama, tujuan teoritis penyelidikan ini ialah aplikasi kritik sastra feminis. Sebagaimana dipaparkan di depan, kritikus Indonesia hingga saat ini masih sedikit sekali mengupas hal-hal yang berkenaan dengan feminis meskipun karya-karya sastra telah melahirkan berbagai bentuk feminin dalam dirinya. Maka, tujuan teoritis ini pun merupakan pula gambaran kritik feminis sebagai pondasi penyelidikan selanjutnya.

Kedua, bukan bermaksud untuk menjustifikasi bahwa penyelidikan ini dalam hal praktis adalah pragmatik, akan tetapi penyelidikan ini lebih mengarah kepada apresiasi terhadap karya sastra. Sebagai sebuah stimulus, karya sastra yang diposisikan sebagai gambaran kehidupan nyata memberikan berbagai pengaruh yang tidak mungkin tidak secara pelan mengubah cara pandang, pikir, dan pendapat kita. Karena itu, sebuah apresiasi terhadap karya perlu dikembangkan, bukan hanya untuk meniru akan tetapi mengetahui yang tidak ditiru.

Selain itu, mengasah ketajaman analisis merupakan tujuan lain selain mengupas feminis merupakan topik yang ‘menjadi’ menarik ketika disadari bahwa sastra Indonesia ternyata tidak tertinggal oleh sastra ‘lain’. Terfokus pada hal ini, melalui sebuah cerpen tulisan ini turut meramaikan khazanah penyelidikan tentang ‘wajah perempuan Indonesia’ dalam karya sastra.

II

A. Jender, Sex dan Feminisme

Memperbincangkan tentang feminisme pada dasarnya tidak dapat dilepaskan satu wacana dengan wacana yang lain. Ini artinya bahwa ketika membahas feminisme tidak semestinya terlepas dari, seperti, psikologi, liberalis, marxis, sosialis, eksistensialis, dsb. Feminisme bukanlah wacana yang tunggal dan terpisah dari wacana lain. Namun demikian, dalam tulisan ini hal tersebut sedikit diabaikan karena beberapa keterbatasan dan batasan. Topik di sini difokuskan pada jender dan sex.

Sebelum membahas feminisme, terlebih dahulu sedikit disinggung di sini tentang perempuan dan persepsi tentang perempuan. Konsep jender merupakan alat untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sosio-kultur. Kajian tentang jender adalah maskulinitas dan femininitas. Sementara itu, seks atau jenis kelamin merupakan penyifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis, secara permanen tidak berubah.

Mengambil pengertian di atas, diperoleh gambaran bahwa istilah jender berbeda dengan istilah perempuan (women) dan laki-laki (men) yang bersifat biologis sebagai kodrat yang dibawa sejak lahir. Jender merujuk pada aturan tertentu, tradisi, dan hubungan sosial budaya yang menentukan kategori ‘feminin dan ‘maskulin’. Dengan demikian, feminitas dan maskulinitas merupakan hasil dari sosial budaya dan merupakan bawaan yang tidak dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat sebagaimana perempuan dan laki-laki yang sudah tentu biologis.

Lebih jauh, dalam term bahasa Indonesia, disebutkan adanya perbedaan antara ‘perempuandan ‘wanita‘. Dalam hal feminisme, dipilih kata ‘perempuankarena didasarkan pada opini bahwa diksi ‘perempuan dan bukan ‘wanita karena ‘perempuanlebih banyak digunakan dalam berbagai wacana jender, baik dalam diskusi, karya sastra, penelitian, jurnal, artikel, maupun buku ilmiah yang dipergunakan dalam literatur. Kemudian, ‘perempuanlebih memiliki konotasi positif dibandingkan dengan ‘wanita‘. ‘Perempuanberasal dari ‘pukemudian ‘mpu lalu ’empu yang berarti tuan, orang yang dihormati, ahli dalam suatu bidang, dan pemilik.

Sementara itu, ‘wanitadihipotesiskan bersumber dari kosakata bahasa Sansekerta, yaitu ‘vanitayang berarti yang diinginkan (oleh laki-laki). Dalam bahasa Inggris terdapat pula kata ‘vanityyang berarti (1) keangkuhan; (2) kesia-siaan (berasal dari bahasa latin, ‘vanitas). Secara linguistik komparatif keduanya adalah kata-kata yang berkerabat jauh, tetapi memiliki hubungan asosiatif, misalnya ‘vanity case/bag berarti sebuah tas atau kotak kecil untuk menyimpan cermin, bedak, dan perhiasan yang dianggap khas perempuan.

Merunut penjelasan di atas, dapat didapati bahwa perspektif tentang jender dapat dimulai dari pengertian. Freud, sebagai sesepuh psikologi ia menyatakan bahwa perempuan tidak lebih sebagai ibu yang merupakan objek hasrat ‘anak’ laki-laki, baik itu hasrat oral, anal, dan genital. Pernyataan tersebut sangat terang bagi kita bahwa ia (Freud)—mungkin tanpa sengaja—memosisikan perempuan pada tempat yang lebih rendah. Bila diteruskan dengan pemahaman ini, akan jelas bahwa persoalan jender tampaknya pada kala itu memang belum begitu mencolok. Perempuan inferior dari laki-laki merupakan hal biasa yang memang sudah semestinya demikian, bukan karena sosial dan kultur.

Kemudian, Winnicott seolah mempertegas pernyataan di atas, menurutnya, perempuan adalah ‘good enough mother, cermin perkembangan subjektivitas bayi. Dalam perspektif ini, makna perempuan telah direduksi dalam fungsi ibu; atau dengan kata lain, perempuan telah menjadi fungsi reproduksi. Perempuan tidak memiliki—atau tidak diberi—peran untuk mengakses diri sebagai bagian proses dan krisis sehingga tidak mandiri.

Selain perspektif di atas, sebagai sebuah pembelaan terhadap pereduksian perempuan, Kristeva menganggap perempuan merupakan subjek yang selalu berada ‘dalam proses’ atau ‘dalam krisis’. Sedangkan tentang definisi, tampaknya bagi Julia Kristeva keilmiahan feminisme tidak mesti dimulai dari definisi. Menurutnya, “perempuan tidak bisa didefinisikan. Jika kita membuat satu penjelasan tentang perempuan, tidak mungkin tidak di dalam definisi itu akan nada resiko menghapuskan kekhasannya. Kekhasan itu mungkin terkait dengan keibuan mengingat itu merupakan satu-satunya fungsi yang membedakan dari eksistensi jenis kelamin lain” (Kristeva, 1984). Lebih jauh, Kritsteva (1986) menyatakan “What does ‘women’ mean? Nothing can be said of woman” : “there is no such thing as The Woman… There’s ‘woman’ only as excluded by the nature of the word. Indeed, she (woman) does not exist with a capital W, possessor of some mythical unity. While marginalized, women is not wholly negated, I understand by ‘women’ that which cannot be represented, something that is not said, something above and beyond ideologies.”

Pengubahan oposisi biner antara maskulinitas dan feminitas dalam masyarakat merupakan tujuan perjuangan feminisme, termasuk dalam studi sastra. Feminisme dalam studi sastra yakni mengalihkan pusat perhatian konstruksi dari realitas maskulin ke realitas feminin. Budianta (2002:201) mengatikan feminisme sebagai suatu kritik ideologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Artinya bahwa feminisme berarti kesadaran akan adanya ketidakadilan jender yang menimpa kaum perempuan. Inilah bagian bahasan kajian ini.

Di sisi yang berbeda, prinsip “all men are created equal” menjadi faktor pendorong dikedepankannya ‘pembebasan’ perempuan. Perjuangan memperjuangkan kesetaraan—bukan kesamaan—kian tak terbendung. Memang, laki-laki cenderung tidak menghadapi dengan face-to-face akan tetapi dominasi laki-laki memang tidak mudah ditumbangkan. Dalam beberapa sisi, prinsip tersebut pada saat ini telah menampakkan hasil, seperti, dibukanya akses untuk perempuan memperoleh pendidikan tinggi, lapangan pekerjaan, mengikuti pemilu—dalam hal ini tidak hanya mencoblos, akan tetapi juga masuk parlemen—tiap kali digelar pemilu, dll.

B. Kritik Sastra Feminis

Kenyataan bangkitnya perempuan dari ‘penindasan’ laki-laki tentu terkait dengan kesadaran akan adanya ketimpangan struktur, sistem dan tradisi masyarakat dalam berbagai bidang. Bermula dari kesadaran, kebangkitan perempuan terdorong untuk bergerak. Sebagaimana ‘tertentidas’ dalam berbagai bidang, kebangkitan ini pun bergerak dalam berbagai bidang. Melalui kritik sastra salah satunya.

‘Kritik’, ‘sastra’, dan ‘feminis’ kemudian menjadi label tersendiri dalam perjuangan. Kritik sastra feminis merupakan sebuah pendekatan akademik pada studi sastra yang mengaplikasikan pemikiran feminis untuk menganalisis teks sastra dan konteks produksi dan resepsi. Kritik sastra feminis mengangkat masalah asumsi tentang perempuan yang berdasarkan paham tertentu selalu dikaitkan dengan kodrat perempuan yang kemudian menimbulkan isu keperempuanan.

Di penghujung proyek feminis, mengakhiri dominasi laki-laki merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Meski dapat dikatakan sebagai sebuah negosiasi ketimbang konfrontasi, tetap saja kritik ini dilakukan dengan cara-cara tanpa kompromi. Semua dimaksudkan untuk wacana-wacana dominan.

III

Sebelum masuk ke dalam bagian analisis, dijelaskan makna judul yang tertera pada bagian awal kajian ini. Judul “Perempuan dan Ketiak Laki-Laki” diambil dari film yang juga mengangkat diantara temanya adalah feminis, yaitu “Perempuan Berkalung Sorban”. Bukan tanpa maksud sekadar menarik, judul tersebut cukup memberikan representasi kajian bahwa terdapat sesuatu yang bermasalah dengan ‘perempuan’ sehingga disejajarkan dengan ‘ketiak laki-laki’.

Dalam artian secara lugas, telah diulas di depan tentang patriarki yang senantiasa mengunggulkan laki-laki atas perempuan. Korban kekerasan oleh laki-laki terhadap perempuan dalam rumah tangga bukan hal yang besar dan bermasalah. Namun, sejalan dengan pergerakan feminisme, perempuan tidak lagi hanya ‘nrimo opo jare wong lanang’ atau ‘kumaha lalaki’. Sebaliknya, perempuan menggugat atas ketidakadilan yang menimpa dirinya. Karenanya, perempuan tidak melulu bertahan di ‘ketiak laki-laki’.

Literatur lain, disiratkan pula judul tersebut dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Sadawy. Novel ini, bahkan cenderung menganut feminis radikal dalam menyuarakan perjuangannya. Dengan penggambaran yang tergolong vulgar, novel ini menyajikan realita perempuan di hadapan laki-laki. Dengan gerakan feminis bersifat pasif, tokoh feminis dalam novel dapat dikatakan berhasil membebaskan dirinya dari kungkungan dan meraih kebebasan.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa untuk tidak salah tafsir terhadap judul yang disajikan. Kajian ini sebatas mengungkap, menggambarkan, dan kemudian mengambil simpulan. Dari sana diharapkan tumbuh kesadaran bahwa feminisme ada, perlu, dan didukung selama tidak melampaui batas.

A. Sinopsis

Pasutri saya dan istri saya keduanya lulusan universitas papan atas di Amerika. Di perumnas mereka bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, baik pendidikan maupun sosial dan budaya.

Suatu waktu ketika pemilihan RT, saya disepakati oleh warga menjadi ketua RT. Dengan usaha menolak yang gagal, saya menjadi Ketua RT. Akan tetapi, saya telah mensyaratkan bahwa tugas RT merupakan tugas kolektif saya dan istri saya.

Ujian pertama yang dihadapi RT adalah ketika ia diminta untuk memecahkan masalah yang terjadi antara Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal. Permasalahan bermula setelah istri Pak Dwiyatmo meninggal dunia. Sejak saat itu Pak Dwiyatmo berperilaku yang tidak biasa. Banyak tindakan aneh dilakukan. Mulai dari tidak lagi shalat berjamaah di masjid, sering datang ke pekuburan di istrinya, makan minum di sana, bahkan sampai yang paling aneh adalah memesan kapling di samping istrinya.

Pintu rumah tidak terbuka, baik siang maupun malam. Ketika malam, terdengar dari luar Pak Dwiyatmo ketukan-ketukan seperti seseorang sedang memaku sesuatu. Gaduh. Ribut. Perilaku tersebut mengganggu Said dan istrinya, pengantin baru yang notabene membutuhkan kesunyian lebih dari tetangga yang lain. Said yang berlatar belakang kultur Ambon, bermaksud menegur secara langsung tetangganya itu. Pak Dwiyatmo. Namun, istri Said yang berkultur jawa tidak menghendaki itu. Hingga pada akhirnya dilaporkan kepada RT.

Setelah beberapa sumbangan pemikiran dan pertimbangan dari RT, tidak ditemukan jalan keluar. Akhirnya, Said dan istrinya memilih hotel untuk mendapat dan menikmati ketenangan suasana. Hingga suatu ketika, orang-orang tahu bahwa keributan selama ini karena Pak Dwiyatmo sedang membuat keranda. Tidak berselang lama, Said dan istrinya menghilang. Tidak seorangpun tahu kemana keduanya.

Melalui Pengadilan Negeri, Said menggugat perilaku Pak Dwiyatmo. Ketua RT pun terlibat. Untuk menyelesaikan masalah antara Said dan Pak Dwiyatmo, istri saya terpaksa turun tangan karena saya sedang tidak di tempat.

Sejak ketahuan membuat keranda, Pak Dwiyatmo kini lebih sering terlihat. Ia setiap pagi membersihkan halaman rumah. Ketika itulah, ia sering bertegus sapa dengan perempuan hingga akhirnya keduanya menikah. Said kembali ke rumahnya. Namun keributan belum usai, Said dan istri masih sering mendengar suara memalukan. Said dan istrinya pergi lagi.

Seolah suasana telah kembali kondusif. Pak Dwiyatmo telah kembali seperti semula, shalat berjamaah di masjid dan berbagai hal lain kecuali masih ada suara aneh yang terdengar oleh orang-orang siskamling. Di sisi lain, ketua RT masih bingung karena kehilangan Said dan istri.

B. Analisis

1. Perempuan dan Kuasa

Diantara hal yang diperjuangkan feminis adalah perempuan mesti diberi peluang untuk sederajat dengan laki-laki. Kesederajatan dalam hal ini sebagaimana telah diungkapkan di depan tidak hanya terbatas dalam rumah tangga akan tetapi juga dalam eksistensi di dalam masyarakat. Feminis menghendaki perempuan pun diberi akses untuk menjadi bagian penguasa, tidak hanya sebagai ‘yang di belakang’ akan tetapi juga ‘yang di depan’. Maka, tampillah perempuan sebagai pemimpin, dsb.

Setelah semua mendesak, kata saya, “Saya terima pekerjaan ini, dengan satu syarat. Ketua RT itu tugas kolektif keluarga. Saya dan istri. Kalau saya di rumah, saya akan aktif, kalau tidak, istri yang mengerjakan.”

Merunut kepada H.T. Wilson (dalam Umar, 2000:34) bahwa jender adalah salah satu pondasi untuk membedakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dalam budaya dan kehidupan bersama. Kehidupan bersama sudah barang tentu tidak hanya suami istri, terbatas dalam skup rumah tangga, tetapi juga sosial masyarakat merupakan kebersamaan.

Apabila dikembalikan ke belakang, tidak akan ditemukan penempatan perempuan oleh penguasa sebagai sosok yang berada di sampingnya, menjadi rekan kerja, terlebih lagi menjadi wakil. Perempuan di hadapan penguasa hanya sebagai sosok yang mudah diatur, penurut dan mudah ditaklukkan, hanya berkutat pada hal-hal yang sifatnya domestik, cukup hanya dengan menyenangkan hati dan objek seks.

Di hadapan penguasa, perempuan ditempatkan pada posisi yang pasti lebih rendah. Kemudian, cara pandang ini membudaya sampailah dalam rumah tangga, perempuan pada akhirnya tidak memiliki akses dan eksis di dalam kehidupan bersama dalam masyarakat.

2. Kekuatan Perempuan

Menurut Ridwan (2008:8), jender merupakan konsep sosial yang harus diperankan oleh kaum laki-laki atau perempuan sesuai dengan ekspektasi sosio-kultural yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang kemudian melahirkan peran-peran sosial laki-laki dan perempuan sebagai peran jender. Peran-peran tersebut tidak mesti sama antara laki-laki dan perempuan. Selain karena memang secara biologis telah ada perbedaan, perjuangan feminis memang tidak mengedepankan ‘kesamaan’ akan tetapi ‘kesetaraan’.

Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat menangkap isyarat.” “Ya kalau iya, kalau tidak, bagaimana?” bantah suaminya. “Tunggu saja.” Mereka menunggu, tapi tiap larut malam thok-thok itu masih terdengar,

Kekuatan perempuan, ditampakkan dalam cerpen pada banyak bagian. Kutipan di atas memperlihatkan perempuan memiliki kuasa dalam sekup rumah tangga. Suara perempuan didengar, dituruti, dan kemudian bersama-sama menunggu yang terjadi selanjutnya.

Selain itu, kekuatan perempuan juga nampak ketika perempuan mampu menaklukkan laki-laki. Dengan caranya sendiri, menang tanpa harus mematikan, perempuan menundukkan laki-laki.

Pak Dwiyatmo sedang menyapu-nyapu halaman ketika lewat seorang perempuan setengah baya.

“Kok menyapu sendiri, Pak?”

“He-eh, tidak ada yang disuruh.”

Lain hari perempuan itu lewat lagi.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti lelah, lho.”

“He-eh, habis bagaimana lagi.”

Lain hari perempuan itu sengaja lewat.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?”

“Ya tidak ada.”

Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?”

“Mau saja.”

Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah. Mereka jalan-jalan bulan madu kedua ke Sarangan. Saya tahu karena suami-istri minta titip rumah pada Ketua RT.

Dalam sekup yang lebih luas, di dalam cerpen juga digambarkan bahwa perempuan pun memiliki kemampuan yang tidak kalah baik dari laki-laki. Sebagaimana selama ini menjadi pandangan umum patriarkal, perempuan inferior karena dianggap tidak memiliki kompetensi dan tidak mampu berkompetisi, terutama ketika dihadapkan dengan laki-laki. Perempuan dianggap lemah.

Beberapa hari kemudian Ketua RT dapat panggilan dari Pengadilan Negeri. Saya berhalangan, yang datang Bu RT alias istri saya. Di kantor pengadilan istri saya menunjukkan surat panggilan itu.

“Panggilan itu untuk Ketua RT. Tidak bisa diwakilkan begitu saja.”

“Saya penggantinya. Ini Surat Kuasa.”

“Kalau begitu, tunggu.” Ia masuk ruangan.

Ketua Pengadilan atau yang mewakili keluar.

“Begini, Bu. Ini ada gugatan untuk Pak Dwiyatmo karena ia mengganggu ketertiban. Tolong diselesaikan dengan damai, tanpa melalui pengadilan.”

Penggalan di atas menunjukkan bahwa ketika memang di depan, perempuan memiliki kemampuan. Dari kutipan di atas, perempuan mampu berkomunikasi, bernegosiasi, dan berargumentasi. Namun demikian, secara legal pemerintah masih menganggap formasi demikian tidak lazim. Masyarakat patriarkal menganggap bahwa Ketua RW dan/atau Ketua RW mestinya dipegang laki-laki, sedangkan perempuan hanya di PKK RT atau PKK RW. Sehingga wajar jika reaksi petugas pengadilan negeri ketika mengetahui seorang perempuan yang menyatakan sebagai wakil RT.

Kemudian kekuasaan perempuan tampak sebagai pengendali atas kebahagiaan. Pak Dwiyatmo belum pernah terlihat sebahagia setelah menikah yang kedua kalinya.

Lain hari perempuan itu sengaja lewat.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?”

“Ya tidak ada.”

Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?”

“Mau saja.”

Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah. Mereka jalan-jalan bulan madu kedua ke Sarangan. Saya tahu karena suami-istri minta titip rumah pada Ketua RT. Tumben, ada keceriaan di wajah Pak Dwiyatmo yang selama ini belum pernah saya lihat.

Dalam hal kebahagiaan, tampaklah bahwa Pak Dwiyatmo dan istrinya saling bersimbiosis mutualisme. Perpaduan keduanya

3. Perempuan dan Laki-Laki

Setelah kita membahas wanita lebih ‘di atas’ dari laki-laki, perlu pula dilihat keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Dalam cerpen dapat diambil gambaran ke-sekufu-an antara laki-laki dan perempuan, yakni antara saya dan istri saya, Said dan istrinya, serta Pak Dwiyatmo dan istrinya.

Keseimbangan antara saya dan istri saya tampak ketika keduanya memiliki kemampuan yang sama dalam memimpin. Istri saya kemudian ditampakkan lebih umum mengarah kepada seluruh perempuan, sebutan “Bu RT” tentu tidak mesti “istri RT”. Bu RT dalam konteks ini menjadi representasi perempuan secara umum, perempuan mampu berkompetisi dan memiliki kompetensi untuk menjadi sejajar dengan laki-laki.

Beberapa hari kemudian Ketua RT dapat panggilan dari Pengadilan Negeri. Saya berhalangan, yang datang Bu RT alias istri saya. Di kantor pengadilan istri saya menunjukkan surat panggilan itu.

“Panggilan itu untuk Ketua RT. Tidak bisa diwakilkan begitu saja.”

“Saya penggantinya. Ini Surat Kuasa.”

“Kalau begitu, tunggu.” Ia masuk ruangan.

Ketua Pengadilan atau yang mewakili keluar.

“Begini, Bu. Ini ada gugatan untuk Pak Dwiyatmo karena ia mengganggu ketertiban. Tolong diselesaikan dengan damai, tanpa melalui pengadilan.”

Kemudian Said dan istri pun demikian. Kesejajaran keduanya tampak ketika keduanya saling mengisi. Ketegasan Said dibarengi dengan kelembutan istrinya.

Saya mencoba menyarankan Said untuk melapisi dinding-dinding dengan gipsum yang kedap suara. “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas”. Istrinya menyambung, “Maaf, kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.” Saya usul, “Kalau begitu, bagaimana kalau kamar tamu diubah jadi tempat tidur?” Katanya, “Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi istrinya memintakan maaf suaminya. Kemudian lain hari keluarga Said pergi lagi, meninggalkan surat. “Tolong beri tahu beta kalau tetangga sebelah sudah dipanggil Allah.”

Kemudian Pak Dwiyatmo dan istrinya.

Lain hari perempuan itu sengaja lewat.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?”

“Ya tidak ada.”

Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu.

“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?”

“Mau saja.”

Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah.

Dalam hal kebahagiaan, tampaklah bahwa Pak Dwiyatmo dan istrinya saling bersimbiosis mutualisme. Perpaduan keduanya melahirkan keseimbangan, saling membahagiakan.

IV

Berdasarkan kajian di atas, diperoleh bahwa relasi perempuan dan laki-laki memiliki karakter dan kecenderungan yang berbeda. Sebagian dari perbedaan itu bersifat saling menguntungkan dan melengkapi sehingga keduanya dipandang serasi. Setelah pemaparan di atas jelaslah bahwa penggambaran perempuan melalui cara komunikasi dan dengan jelas pula penilaian laki-laki terhadap perempuan tidak lagi melulu patriarkal, tetapi juga sudah memberi akses dan mengakui eksisnya perempuan.

Daftar Pustaka

Kristeva, J. 1984. Revolution in Poetic Language. New York : Columbia University Press.

Kuntowijoyo. 2005. RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana”

Peter Barry. 2010. The Beginning Theory. Jalasutra

Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Citra Pustaka.

Ridwan, 2006. Kekerasan Berbasis Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Umar, Nasarudin. 2001. Gender dalam Perspektif Islam. Yogyakarta, UGM Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: