Bungaku, Yang Kudamba

Untukmu bunga yang tersenyum
Untukmu bunga yang ranum
Untukmu bunga yang kian merekah
Untukmu bunga yang sedang bergairah

Bukan hanya karena indahmu
Bukan hanya karena menawanmu
Bukan hanya karena kesempurnaanmu
Bukan hanya karena sepertimu impianku

Bungaku yang tumbuh
Bungaku yang berkembang
Bungaku yang berbunga
Bungaku yang bermekaran

Di taman hati ini kau tahu
Di rongga hati ini kau tahu
Di ruang jantung ini kau tahu
Aku mencintaimu sekadarnya

Bungaku,
Engkau ujian berat bagiku
Engkau tak ubahnya neraka
Engkau meringankan bebanku
Engkau bak surga duniaku

Dalam keyakinan hati ini
Akan kubiarkan engkau dan kasihku
Akan kubiarkan engkau dan sayangku
Akan kubiarkan engkau dan cintaku
Menyuburkan jalanku

Sungguh sebuah harap
Benar inilah yang kerap
Menjadi mimpi dalam gelap
Hingga hampir aku kalap

Bungaku,
Engkau tahu pandangan mataku
Engkau tahu senyumanku padamu
Engkau tahu uluran tanganku
Dan aku tahu, kau tahu

Hanya, jika telah hadir pada dirimu
Aku memohon aku dan kau bersabar
Aku memohon aku dan kau tegar
Istiqomah di atas jalan yang benar
Istiqomah di atas ujian yang besar

Kelak, jika ada pertemuan di antara kita
Kelak, jika ada perjumpaan di antara kita
Engkaulah menantu dari ayah-ibuku
Engkaulah ibu dari anak-anakku

Jika aku siap menjadi imam
Jika aku siap menjadi teladan
Jika aku telah diizinkan
Aku ‘kan datang pada orangtuamu
Aku ‘kan mengkhitbah
Aku ‘kan berakad nikah
Dan kita berjamaah

Engkaulah bungaku
Tak mungkin kupetik
Bila tanpa putik
Tak mungkin kupetik
Bila jambanganku belum apik

Engkaulah bungaku
Bunga yang kuharap tak layu
Engkaulah bungaku
Bunga yang tak dihisap tanpa malu

Kupersembahkan untukmu
Segala kesucian yang ada padaku
Kuharap pun kau persembahkan padaku
Hadiah teristimewa darimu
Kesucian yang tak pernah temah

Ya Allah, kuatkan hamba sabar menunggu
Ya Allah, kuatkan hamba sabar menanti
Tibanya sang waktu
Bunga itu halal bagi diri ini

Sabarkan hamba
Tawakalkan hamba
Dan taubatkan hamba
Lindungi hamba dari melangkahi pagar-Mu
Lindungi hamba dari melampaui batas-Mu

Pagi saat embun belum kering di
Bandung, 23 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: