Tidakkah Kau Tangisi Dirimu

Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.

Satu dari tiga hal yang merupakan pokok ajaran hadits di atas yang mestinya kita renungkan adalah berlalunya ramadhan. Apakah masih tertawa terbahak ketika Ramadhan meninggalkan sedangkan  sadar bahwa tidak ada jaminan memperoleh ampunan atas dosa? Tawa mana yang akan menggema jika hatinya menangis, tidak ada jaminan telah diampuni. Rasa takut dan harap atas kesia-siaan yang mengaliri amal menyadarkan tak layak tertawa sedemikian itu. Bagaimana mungkin diampuni jika selama Ramadhan sekalipun menangisi dosa? Bagaimana mungkin dimaafkan jika selama Ramadhan tak terbetik sesal? Tidak yang dapat diharapkan terwujudnya kesucian sebagaimana bayi yang baru lahir.

Kalaupun yakin telah diampuni karena usaha selama Ramadhan, yakinkah bahwa amal yang dilakukan benar-benar untuk Allohuta’ala? Murni hanya untuk-Nya? Padahal banyak diantara amal yang telah lalu ternyata di akhirnya disadari bahwa ikhlas belum tertanam dalam amal-amal. Betapa takabbur orang-orang yang seperti ini, meyakinkan diri telah diampuni sama artinya dengan merasa dirinya telah suci, telah mendapat hak untuk mengecap surga. Adakah kesombongan yang lebih tinggi dari kesombongan seperti ini? Tangisilah dirimu karena kau tahu hadits di atas pun untukmu.

Waktu luang terbuang hanya untuk permainan sia-sia, bahkan tanpa merasa bahwa kadang pun terjerumus ke dalam kemaksiatan. Hadirkan hatimu merenungi betapa kotor Ramadhanmu, bercak-bercak noda. Apa yang engkau harapkan dari Ramadhanmu; ampunankah? Apa yang menjadikanmu merasa layak memperolehnya?; rahmatkah? Apa usahamu menggapainya sehingga demikian?; Atau pembebasan dari api neraka? Tidakkah kau tahu bahwa amalmu di Ramadhan ini tak mencukupi untuk membayarnya. Tidak ada harapan untukmu menyicip surga jika kau hanya menjadikan amalmu yang penuh noda itu.

Harapkanlah Alloh al-Ghoffar menyelamatkanmu dengan engkau tetap mengupayakan ampunannya. Harapkanlah Dia merahmatimu dengan engkau selalu menaati-Nya. Harapkanlah kesucian dengan engkau tetap meniti jalan yang diridhai-Nya. Alloh tidak akan menyiakan amalmu meski secuil dzarrah, selama amalmu beralas ikhlas dan bukan bagian yang engkau buat-buat. Harapkanlah surga dengan tanpa menyombongkan diri pasti memperolehnya. Engkau bukan siapa-siapa diantara miliaran manusia yang lebih baik darimu. [DS]

Bandung, 30 Ramadhan 1431 H

Didik Santoso

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: