Sastrawan, dari Sunyi ke Sunyi

Kuli pelabuhan rupanya memang benar memiliki kesamaan dengan penyair. Keduanya sama-sama mengangkut beban, yang pertama dari kapal ke darat sedangkan yang kedua dari sunyi ke bunyi. Begitulah kurang lebih lebih petikan terjemahan puisi karya sastrawan Belanda Slauerhoff yang diterjemahkan Hartojo Andangdjaja (1930-1990). Dan beban itu akhirnya memang mesti diambil sastrawan, bukan sebagai hukuman melainkan sebagai pilihan. Sastrawan mengusung mashlahat untuk umat, bukan malah ribut hingga menambah madharat.
Ibarat nabi, sastrawan memberikan tanda-tanda zaman dan mengingatkan yang menyeleweng. Tak kurang apa, sastrawan seperti Dante, Goethe, Blake, Whitman, Tagore, dan Yamin merupakan sosok-sosok yang menyuarakan “kebenaran” melalui kelembutan puisi mereka. Mereka merupakan contoh tokoh besar yang jernih nan bening dari kotornya politik. Hingga kebesaran mereka tergusur oleh zaman, lahir kembali militan-militan kecil yang mencoba memberontak, namun tetap kembali bungkam.
Sebagai sastrawan yang hidup di tengah kotornya dunia akibat politik, melalui puisi didengungkan kebenaran. Namun sayang, puisi di zaman industri ini terlampau lembut sehingga tak terdengar bahkan gaungnya sekalipun. Puisi terkalahkan oleh riuh redamnya mesin-mesin industri yang tak kenal rehat itu. Tampak miris memang, tetapi begitulah nyatanya. Zaman kita sekarang ini “seperti” bukan lagi masanya mengusung puisi tuk membangkitkan “suara” Tuhan, bukan lagi masa menghadirkan puisi untuk menyuarakan nurani. Puisi tetap sunyi, tak lagi berbunyi dan kembali pada sunyi.
Puisi ibarat “alat” yang menyiarkan kebenaran dan kebajikan, memperingatkan penyelewengan dan kebatilan. Bahkan, kegelapan dan kemuraman. Mencoba menghidupkan “kebenaran” yang dianggap kebanyakan manusia telah mati atau hanya sekadar impian, mencoba menyederhanakan yang tampak luarnya seperti benang kusut tak jelas jeluntrungnya, juga mencoba menerobos jalan yang dinilai buntu sebagai batas akhir harapan. Namun sekali lagi, puisi tinggallah puisi yang tergeletak hingga berdebu di atas meja kusam yang kian reot lagi rapuh sang sastrawan.
Berdebu, ternoda, kotor, kemudian menjijikkan, kurang lebih seperti itu bayangan puisi-puisi di masa ini. Tertulis di kertas-kertas media massa, dilewat pembaca begitu saja; terpampang dengan pancar keindahan, hanya menjadi penghias tak bermakna; dibaca di perayaan-perayaan besar, terdengar merdu tak menyentuh kalbu, puisi tak ubahnya jalanan lengang di tengah kerontangnya dunia. Dari sunyi kembali ke sunyi, dari sepi kembali ke sepi. Suara dan suara, tiada makna; bunyi dan bunyi, tiada arti.
Puisi di ambang maut, tinggal di sela-sela ribut; bertahan hidup diantara sekat dinding gedung-gedung menjulang mencakar langit. Kehancuran puisi memang bukan berarti runtuhnya “kebenaran”, tetapi setidaknya ketika kebenaran tak lagi sekencang riuhnya penyelewengan, awan hitam kian tebal sedangkan manusia masih terlenakan oleh kenikmatan-kenikmatan oral, anal, dan genital; manusia masih terfanakan oleh indahnya kehambaan dan kehampaan. Yang kosong dikejar, yang isi ditinggalkan.
Puisi memang tetap puisi, selamanya. Hanya mesti dimengerti bahwa bukan puisi yang mesti diselamatkan, disuarakan, dibangkitkan dan dibumikan. Tetapi arti, makna, isi hingga esensi dari puisilah yang mesti selalu hidup, selalu dipertahankan jiwa dan nyawanya, yaitu “kebenaran”. Terlepas dari mesti diakui bahwa “kebenaran” itu relatif, namun relatif itupun sungguh-sungguh relatif, tidak sedikit puisi-puisi yang hambar dari “kebenaran” ketuhanan (teologi, religi) dan kemanusiaan (humanisme). Namun demikian, sebenarnya semua dapat diambil makna darinya, yaitu mana yang mesti dicontoh untuk diamalkan dan mana yang mesti ditiru untuk ditinggalkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: