Bila Engkau Jantan, Nikahilah Dia

Apakah engkau mencintai dia dengan cinta yang tulus, lurus, hanya karena Allah? Atau, engkau mencintai dia karena engkau hanya mengikuti kemauanmu, mengekor hasratmu, memenuhi syahwatmu? Akankah engkau termasuk laki-laki yang bertanggung jawab atas cintamu?

Jangan hanya mengajak pacaran. Kemudian, setelah bosan, kau buang dia seperti engkau mencampakkan debu di pundakmu. Ibarat, habis manis sepah dibuang. Jika yang demikian engkau lakukan, sungguh engkau tidak menghormati menghargai mereka. Engkau anggap apa mereka? Mereka bukan untuk dipermainkan, bukan untuk dijadikan sekadar hiasan. Mereka adalah kehidupanmu; jika engkau menganggap rendah mereka, maka engkau jauh lebih rendah.

Sebagai seorang laki-laki yang dengan tulus mencintai perempuan tertentu, tentulah senantiasa ia mengharapkan yang terbaik untuk perempuan itu. Laki-laki yang tulus itu pun tidak akan mencelakai atau mengharapkan kecelakaan atas yang dicintai. Bahkan, laki-laki yang demikian merelakan dirinya menjadi tameng jika itu diperlukan. Tanpa mengharap imbalan apapun, kecuali balasan cinta dari perempuan yang dicintainya itu. Hanya balasan cinta. Tidak lebih, tidak kurang.

Sebaliknya, bila seorang laki-laki sebenarnya hanya sedang mengumbar nafsu syahwatnya, maka cinta tidaklah lebih dari sekadar topeng, kedok untuk memenuhi hasratnya. Keadaan yang seperti ini, laki-laki mencintai perempuan bukan karena ketulusan, sama sekali tidak ada i’tikad baik dari laki-laki terhadap perempuan, tidak peduli celaka atau selamatnya perempuan selama ia senang maka ia akan terus seperti itu. Meski memang kita tidak dapat menafikan sebagian mereka pada akhirnya menikah dengan dasar saling mencintai. Cinta yang entah, bukan bermaksud mencela, karena Allah Yang Maha Penyayang atau karena yang lain. Namun itu yang berakhir dengan pernikahan demikian tidak lebih banyak dari mereka yang justeru merugi akibat hubungan yang mereka jalani. Laki-laki yang memperturutkan nafsu syahwatnya adalah ancaman yang tidak ditakuti kebanyakan perempuan.

Laki-laki mencintai perempuan dengan tendensi sekadar memenuhi syahwat, inilah hakekat pacaran. Laki-laki yang memacari perempuan sebenarnya cintanya tidak tulus, yang ada sebenarnya hanyalah demi nafsu dan hasrat pribadi, bukan cinta yang sesungguhnya. Sebagai bukti, laki-laki yang demikian tidak peduli jika perempuan yang dipacarinya celaka dan masuk neraka, asalkan dirinya bisa bersenang-senang dengan wanita tersebut ia akan terus. Sesiapa yang mencium pacarnya, jelas cintanya palsu; karena yang dicari hanyalah kesenangan pribadinya, karena dia tidak peduli jika yang dicium itu celaka. Betapa tidak, jika cintanya tulus, hendaknya ia mempertimbangkan siksa yang menantinya, karena ciuman adalah zina yang dapat mencelakakan dengan dimasukkannya keduanya ke dalam neraka. Buknkah ini celaka? Masihkah dipedulikan? Jelas tidak. Di sinilah letak bahwa cinta yang tidak tulus tidak memedulikan perihal celaka dan selamat. Dosa mengantarkan pacarnya ke neraka.

Jika cintanya tulus, tentu laki-laki pecinta itu tidak tega berbuat sengaja untuk mencelakakan yang dicintainya. Tidak mungkin tega mendorong kekasih ke tengah jalan raya agar ditabrak kendaraan-kendaraan yang melintas. Tidak mungkin tega membakar dengan api orang yang kekasih. Lantas kenapa laki-laki pecinta tadi tega memasukkan orang-orang yang yang dicintai ke dalam api neraka? Renungkanlah wahai pecinta yang masih memiliki hati… !!! Dan berbuat maksiat dengan kekasih sama saja mencelakakan kekasih itu dengan dosa yang bisa berujung siksaan di neraka.

Akhi, yang saya sedang belajar mencintai kalian…

Jika cinta yang engkau bingkai dengannya adalah cinta yang tulus, tentu engkau tidak akan berlama-lama pacaran. Selanjutnya, secepat mungkin menikahinya. Sehingga semua yang engkau lakukan kepadanya dan/atau bersamanya menjadi halal. Engkau tidak menjerumuskan dia, memerosokkan dia, ke dalam api neraka.

Tahukah engkau, orang-orang yang berpacaran hanyalah orang-orang pengecut yang hanya berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab. Jadilah engkau laki-laki sejati, yaitu laki-laki yang tidak hanya berdiri di balik topeng “bunglon”. Jangan engkau pelihara cinta palsu jika engkau tidak menginginkan kepalsuan selanjutnya. Janganlah engkau dustai logikamu.

Besar kecilnya dosa berpacaran sebanding dengan banyak sedikitnya aktivitas maksiat dan zina yang dilakukan selama berpacaran. Pesan buat yang masih pacaran: jangan engkau pandangi dia, jangan sentuh dia, jangan engkau pegangi dia, jangan menciumnya, jangan berduaan meski di keramaian, dan segeralah menikah. Jika engkau tidak tahan, bersabarlah atas syahwatmu. Atau, Bila Engkau Memang Jantan, Nikahilah Dia…!!!

(Source : catatan Ukhti Avizhatuz Azzhara Lail — Dikembangkan oleh Didik Santoso)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: