Oleh-Oleh dari Suryalaya

Kesyukuran kita kepada Allah ta’ala, terhadap segala bentuk karunia-Nya kepada kita tentulah sebuah amal yang tidak akan pernah berhenti terlebih berakhir. Kesyukuran kita kepada Allah ta’ala tidak berhenti karena memang karunia itu tidak pernah berhenti pula, bahkan, kita sampai mampu bersyukur kepada-Nya itu pun karunia yang wajib disyukuri. Sungguh benar perkataan Allah, nikmat-Nya tidak akan pernah selesai dihitung meski ranting menjadi pena dan lautan menjadi tinta hingga lautan diisi kembali hingga tujuh kali isian tidak akan selesai. Dan ranting dan laut pun termasuk karunia-Nya. Nikmat manakah yang dapat kita ingkari?

Materi pada kunjungan tersebut dibuka dengan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, namun justru kesederhanaan inilah yang seringkali dilalaikan. Pernahkah kita meminta bahwa diri kita lahir sebagai manusia? Sebuah pertanyaan sederhana namun sering terlalaikan maknanya. Pernahkah binatang meminta dia diciptakan sebagai binatang? Demikian pula setan, mereka ada bukan karena kehendak mereka.

Sungguh kita bersyukur karena kita dilahirkan oleh manusia, hidup diasuh oleh manusia, dan semoga kita kelak mati sebagai manusia seutuhnya. Manusia adalah makhluk yang sungguh diciptakan dengan bentuk fisik terbaik, yang dihiaskan padanya perbuatan-perbuatan mulia, dan dilekatkan padanya derajat yang paling tinggi jika mampu menjadikan dirinya mengenal penciptanya.

Namun, pernahkah kita melihat diri kita? Pernahkah kita bertanya pada diri kita betapa semestinya kita bersyukur karena kita dilahirkan oleh orang tua yang beragama Islam? Pernahkah kita bertanya pada diri kita betapa seharusnya kita bersyukur karena kita berada dalam naungan Islam dan iman? Pernahkah kita bertanya pada diri kita betapa selayaknya kita bersyukur karena kita telah mengenal Allah serta telah dikaruniai kekuatan untuk sadar berusaha menundukkan diri kepada-Nya?

Pernahkah kita melihat diri kita? Pernahkah kita meninggalkan anggota badan kita barang semenit? Atau barang sedetik? Sungguh tidak pernah terjadi. Namun tahukah kita berapa jumlah bulu alis mata kita? Berapa lubang pori pada tubuh kita? Berapa helaan nafas kita? Kesemuanya seringkali jauh dari pikiran kita sehingga sangatlah wajar bahwa kita tidak tahu diri. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena kadang tidak mau tahu. Sungguh kesombongan yang demikian mendekatkan kita pada perangai setan. Naudzubillah.

Kemudian, seberapa jauhkah ketaatan kita kepada Allah yang kita laksanakan dalam sehari? Berapa keburukan yang kita lakukan, pelanggaran terhadap hukum Allah? Pernahkah kita berpikir tentang yang demikian itu? Sungguh kita tidak tahu diri karena memang tidak melihat diri. Allah memberikan segala duniawi ini untuk kita sehingga kita tidak lagi bingung terhadap duniawi. Hidup dan mati kita hanya untuk Allah, namun lihatlah diri kita, justeru menjauh dari Allah dengan mengabaikan hukumnya.

Sembilan bulan kita dalam rahim ibunda kita. Dengan dimanjakan, kita disayang. Bunda dan ayahanda kita betapa berharap akan kelahiran kita. Setelah kita dilahirkan, kita diasuh dengan penuh kasih sayang. Sampailah kita pada tingkat umur tertentu yang menyadarkan kita akan cinta. Apakah kita menjalankan cinta pada tempatnya? Sudahkah kita menempatkan cinta pada tempat semestinya? Ataukah kita masih terpikat untuk memilih syahwat daripada syariat? Betapa durhaka kita kepada Allah.

Manusia dimanja oleh manusia lain, tapi Allah ta’ala sungguh lebih memanjakan manusia lebih dari pemanjaan yang kita tidak sadari itu. Ketika manusia menjejakkan kaki di bumi, telah Allah siapkan udara segar untuknya menghembuskan nafas. Diciptakan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang darinya kita makan. Diciptakan keindahan untuk menghias mata kita. Dihamparkan daratan untuk kita tinggal padanya. Sudahkah kita tahu bahwa kita benar-benar dimanja? Sedangkan kita merasa bahwa terkadang Allah berbuat tidak adil terhadap kita.

Sungguh pada hari ini kita menemukan kebanyakan kita menilai kemanusiaan dengan ukuran pikir (otak). Kita lebih senang membicarakan kemanusiaan. Padahal, tidak selayaknya kita memperbincangkan kemanusiaan dengan mengesampingkan ketuhanan. Maka, pembicaraan hak asasi manusia tidak mesti mengkebiri hak asasi tuhan.

Jadilah orang yang ‘tahu diri’.

Seandainya dosa memiliki bau, sungguh tidak akan ada manusia yang mendekat pada diri yang penuh bau ini. Munafikkah kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: