Buanglah Sampah pada Tempatnya

Slogan pada judul di atas sangat mudah ditemui, tidak hanya pada bungkus makanan seperti permen, roti, kue, kopi, susu, atau cemilan yang lain; tetapi juga tertulis pada bungkus detergen, isi ulang sabun atau pun sampo. Hampir setiap barang yang mudah menjadi sampah, slogan tersebut ditemukan. Bukan tanpa makna, slogan tersebut mengandung makna yang cukup dalam; bergantung pemaknaan yang digunakan pembacanya. Bahkan, dari sampah ini dapat diperkirakan tingkat peradaban suatu masyarakat. Dengan demikian, pengelolaan sampah menjadi hal yang sangat urgen bagi setiap masyarakat.

Golongan kesehatan mengatakan bahwa membuang sampah sembarangan dapat menjadi bibit penyakit. Proses dari sampah menjadi bibit awal penyakit secara singkat dapat dikatakan bahwa dengan tumpukan makanan bekas, maka akan melahirkan kuman atau bakteri. Misal, nyamuk demam berdarah dapat kita katakan bermula dari sampah; pembuangan sampah sembarangan akan mengakibatkan saluran pembuangan air menjadi mampet atau sedikit lebih beruntung sekadar terhalang sehingga pembuangan tidak normal. Keadaan itu kemudian menjadikan air tergenang. Nah, genangan air inilah yang kemudian menjadi sarang nyamuk. Dengan demikian mudah dipahami bahwa dengan tidak membuang sampah pada tempatnya dapat mengakibatkan terjangkitnya penyakit tertentu, salah satunya adalah demam berdarah.

Tidak berbeda dengan golongan di atas, golongan petugas tata kota pun akan berpendapat sama, membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan kerugian. Bagi golongan ini, kota yang kumuh, tempat umum yang kumal, jalanan yang dipenuhi sampah berserakan merupakan keadaan yang merugikan. Ukuran merugikan bukan hanya merusak pandangan mata, tetapi juga akan membuat pengunjung menjadi tidak betah dan tentu segera pergi. Hal seperti ini bukan perihal kecil, sebaliknya, ini merupakan hal besar. Dapat kita ambil contoh kerugian akibat sampah yang tidak pada tempatnya ini, keadaan kumuh merupakan indikator yang mencerminkan tingkat kesejahteraan di sekitar lokasi kumuh itu, sampah yang berserakan menandakan tingkat kepatuhan terhadap aturan.

Setiap makhluk memiliki perputaran masing-masing. Merunut pada mata rantai makanan, kita dapat melihat elang memakan ular, kemudian tikus dimakan ular, kemudian tikus memakan tetumbuhan, dan tumbuhan menyerap hasil dari bangkai elang. Perputaran seperti ini memiliki dua mata sisi, keuntungan dan kerugian. Namun bagaiamanapun, keseimbangan dalam rantai makan merupakan hukum alam yang tidak akan berakhir. Menjaga keseimbangan dan keharmonisan menjadi hal yang tidak dapat dielakkan,

Demikian pula dalam hal sampah, selain merugikan berbagai pihak, ia juga menguntungkan untuk beberapa pihak lain. golongan pemulung tentu berbeda pendapat. Bagi golongan ini, sampah merupakan sumber penghidupan. Tanpa sampah, maka harapan untuk berumur panjang menjadi bayang-bayang yang bisa berakhir kapan saja karena tanpa sampah berarti tidak ada makanan. Adakah makhluk hidup yang bertahan lama tanpa makan? Paling panjang umur, tanpa makan, mungkin tujuh hari. Pemulung dan sampah jelas menjadi dua sisi mata uang yang keduanya merupakan simbiosis muatlisme atau bertukar keuntungan. Namun, hanya beberapa jenis sampah saja yang menjadi ketergantungan pemulung sehingga dengan keadaan ini sampah-sampah yang tidak menjadi sandaran pencaharian pemulung diabaikan dan tentu menjadi sampah benar-benar sampah.

Kelompok lain, dengan kondisi tidak jauh berbeda dengan pemulung sampah, adalah orang-orang miskin. Miskin di sini, menjadi pokok bahasan adalah miskin yang mereka tidak hanya tidak memiliki sandang, pangan, dan papan; tetapi juga mereka yang tidak memperoleh pekerjaan. Dalam hal yang keempat ini, setidaknya ada dua sebab, yakni tidak adanya lapangan pekerjaan yang kedua adalah tidak memiliki kemampuan, baik berupa yang bersumber dari otak maupun otot. Terlepas dari kedua sebab itu, bahasan kita adalah miskin, yang terlampau miskin.

Sampah sudah pasti bersumber dari mereka yang mampu membeli atau sekadar mengkonsumsi, apapun itu, hingga dihasilkanlah sampah. Sejalan dengan itu, jenis-jenis sampah tertentu telah memiliki jalurnya masing-masing. Sampah organik dan sampah non-organik memiliki jalur yang berbeda yang kemudian akhir dari keduanya pun berbeda. Dikarenakan golongan pemulung sampah, maka sampah-sampah tertentu telah jelas akhirnya; daur ulang. Sampah yang diburu oleh pemulung adalah sampah-sampah tertentu yang sekiranya dapat didaur ulang, seperti hasil bahan tambang berupa besi, baja, aluminium, kemudian dari hasil pabrik berupa alat-alat elektronik, kertas, atom, beling atau kaca, dan sebagainya. Bagaimana dengan sampah yang lain, seperti sampah makanan, yang tidak dapat didaur ulang?

Setiap ada kelas orang miskin pastilah di sana ada kelas orang kaya. Kedua kelas ini saling bertukar peran meski sangat kadang ketimpangan atau ketidakseimbangan antara keduanya sering terjadi. Kelas orang miskin merasa lebih rendah daripada kelas orang kaya, dan kelas orang kaya merasa lebih memiliki hak atas kelas orang miskin. Pertikaian kedua kelas ini tidak pernah berhenti sampai keduanya merasakan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam hal sampah, maka jelas sekali bahwa kedua kelas ini memiliki hubungan yang sangat erat. Kelas orang kaya membuang sampah, kelas orang miskin memungut. Tanpa adanya kelas kedua, maka kelas pertama akan merasakan betapa besar peran kelas kedua.

Terkhusus sampah makanan setidaknya menjadi jalan keluar untuk mengatasi kemiskinan terutama mereka yang tidak memiliki sumber kehidupan, sampah makanan pun dapat mengurangi atau setidaknya menunda kematian, sebut saja sebagai golongan keempat. Jika mereka yang memulung memperoleh makanan berkat barter hasil memulung dengan uang, maka pada golongan keempat ini mereka memperoleh makanan secara cuma-cuma: gratis. Hanya saja memang nilai makanan yang mereka peroleh bisa saja tidak lebih baik nilainya dibanding makanan yang diperoleh golongan pemulung. Namun bagaimanapun memperoleh makanan, yakni sampah makanan, merupakan karunia yang tetap tidak layak dikufuri. Betapa tidak, tanpa adanya sampah makanan maka kematian menjadi sangat dekat.

Membuang sampah pada tempatnya’ kini telah terang bahwa setiap sampah memiliki tempat, jalur, arah, dan akhir berbeda-beda sesuai dengan kelompok masing-masing. Sampah yang diburu pemulung tentu sampah-sampah tertentu yang dapat ditukar dengan uang. Maka, sampah makanan bukan termasuk jenis sampah yang mereka buru sehingga sampah jenis ini akan menjadi sampah yang benar-benar sampah. Nah, untuk menjadikan sampah makanan ini berguna, maka dibuanglah sampah ini pada tempatnya. Dimanakah sampah makanan semestinya dibuang?

Sampah makanan agar menjadi sampah yang berguna maka sepatutnya dibuang pada orang-orang miskin. Diantara jamuan makan malam mereka yang di bawah sederhana, atau bahkan yang tidak memiliki hidangan sama sekali, sampah makanan merupakan jalan pintas. Nilai makanan tidaklah lebih penting dibandingkan dengan keberlangsungan hidup. Setidaknya, dengan membuang sampah makanan ini pada tempatnya, selain menjaga lingkungan dari bau sampah dan tambahan hidangan makan malam, ada keuntungan lain yang dapat disumbangkan oleh kelas kaya kepada kelas miskin yakni saling memberi.

Melihat kondisi nyata, maka tampaklah bagi kita terlampau banyak kelas miskin yang tinggal di negeri ini. Dengan membuang sampah makanan pada tempatnya, secara tidak langsung pun turut menyelenggarakan kehidupan bernegara bahwa orang miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Akankah kelas kaya membuang sampah makanan pada tempatnya dan kelas miskin tulus menerima?

***

Terinspirasi dari The Modest Proposal oleh Jonathan Swift

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: