MENCARI TITIK

I went to the woods because I wished to live deliberately,
to front only the essential facts of life . . .
and not, when I came to die, discover that I had not lived.

“Where I lived” dan “What I lived for” merupakan dua pertanyaan yang tidak cukup dijawab dengan jawaban singkat, lebih dari itu dua pertanyaan ini merupakan pertanyaan tentang kehidupan kita di dunia ini. Kita berada di dunia, jelas ini jawaban pertanyaan pertama, dan kita akan menuju satu titik tertentu dan itulah yang menjadi tujuan kita merupakan jawaban pertanyaan kedua. Akan tetapi, permasalahannya adalah, sesingkat dan sesederhana itukah?

“Adakah titik?”, “adakah garis?” dan “adakah ruang?” Tiga pertanyaan ini cukup menggelitik pikiran namun tetap saja menarik untuk dikupas. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terlepas dari judul yang disampaikan, “What I lived for”. Kesemuanya saling berkaitan satu dengan yang lain, dan yang lain dengan yang satu itu hampir tidak terlepaskan.

“Adakah titik?” pertanyaan ini sebenarnya bisa dijawab sederhana, yaitu dengan jawaban “Ada!” atau “Iya, ada.” Akan tetapi, maksud pertanyaan ini tidak sesederhana jika kita membahasnya dari sisi yang lain, karena memang titik di sini bukan hanya titik yang hadir sebagai penutup kalimat. Apabila kita mengkaji dari sudut pandang Linguistik, maka fungsi titik adalah tanda baca yang berfungsi untuk menandai bahwa ia merupakan akhir atau penutup sebuah kalimat. Tanpa adanya titik, maka tidak ada lah kalimat, melainkan hanya klausa. Tanda seru dan tanda tanya pun berujung pada titik. Oleh karena itu, titik pada dasarnya tidak bisa diremehkan karena ia menentukan keber-ada-an atau dengan kata lain sebagai pusat “ada”.

Namun, “apakah titik itu ada” mengartikan bahwa pusat “ada” itu ada? Jawabannya tidak cukup dengan “ada” atau “tidak ada” tapi dapat difilosofiskan bahwa titik itu ada jika ada garis. Kehadiran garis memberikan kepada kita bahwa titik itu ada, karena garis tidak pernah ada jika titik itu tidak ada. Kenapa? Karena garis dibentuk oleh titik-titik yang banyak, tersusun dalam satu jajar sehingga tampaklah ia sebagai garis. Maka, garis ada karena adanya titik dan titik dapat dibuktikan jika ada garis. Garis yang dimaksud di sini adalah batas, yakni ketika ada titik berarti ada batas tertentu sehingga titik itu ada.

Kemudian pertanyaan “apakah ruang itu ada?” pun juga tidak hanya bisa dijawab ada jika selanjutnya ditanyakan bagaimana ruang itu ada. Pertanyaan “bagaimana” membawa kita pada pembuktian hingga terbukti bahwa antara titik, garis, dan ruang itu senantiasa berputar atau biasa kita sebut linear, sistem linear. Titik dapat dibuktikan jika ada garis, dan ruang terbentuk karena adanya garis. Dapat dibayangkan tentunya, bahwa tanpa adanya garis maka tidaklah tercipta ruang. Sehingga dengan demikian terbukti bahwa ruang itu terbentuk jika ada garis dan garis dibentuk oleh titik, dan keberadaan titik itu menentukan adanya ruang.

Kemudian berkaitan dengan judul, “What I lived for”, dapat dikaji terlebih dahulu bahwa hidup kita tidak lepas dari tiga pertanyaan yang patut menjadi renungan kita. “Dari mana asal kita”, “untuk apa kita di sini” dan “ke mana setelah ujung hidup ini”. Tujuan hidup kita tidaklah lepas dari asal kita dan akan ke mana kita tentunya. Mengetahui asal kita akan membawa kita untuk mengenal diri sehingga kita tahu siapa diri kita, “kenalilah dirimu.” Diantara tujuan dari pencapaian hidup ini setelah mengenal diri adalah tercapainya hakikat hidup kita, yakni titik dari kehidupan ini. Kita makan, minum, tidur, dan seluruh aktivitas kita kesemuanya memiliki titik, titik yang kita sebut sebagai hakikat.

Perjalanan kita di dunia ini memiliki hakikat tertentu, namun bukan berarti kita tidak mengindahkan syariat yang diberikan. Tidak. Hakikat akan diperoleh jika kita menggunakan syariat, tidaklah kita mendapati perut kenyang melainkan dengan makan terlebih dahulu. Dengan demikian kita pahami bahwa hakikat hidup kita, yakni tujuan inti atau titik perjalanan kita, hanya akan dicapai jika syariat hidup kita jalani dengan sempurna. Bukan jaminan tentang lurus atau melenceng hidup ini, akan tetapi dengan titik kehidupan itu semestinya manusia yang telah menemukannya ia merasakan hidup yang lurus, damai dan sejahtera. Titik dari kehidupan adalah iman yang sempurna. Temukanlah “titik” anda. [Dhy’S]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: