NATURAL SELECTION, IMAJINASI BERUJUNG BENCANA

Perang adalah kebutuhan makhluk hidup. Perang sama pentingnya dengan pertarungan unsur-unsur alam : perang memberikan keputusan yang menurut ilmu kehidupan adalah adil, karena keputusannya berpijak pada sifat paling mendasar dari segala sesuatu. (M. F. Ashley Montagu (1961 : 76-77)

A. Latar Belakang

Setiap hal yang merupakan sebab mestilah memiliki akibat. Namun, hanya sedikit sebab yang dipertimbangkan akibatnya utamanya akibat-akibat buruk. Demikian pula halnya dengan berpendapat, setiap pendapat pasti memiliki sebab dan mestilah dipertimbangkan akibatnya. Dalam ruang sastra, tidak ada pendapat yang keliru, tidak ada pendapat yang mutlak, dan tidak ada pendapat dilarang, terlebih mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat yang salah; semua pendapat di dalam ruang sastra selalu boleh, dan silakan. Hanya satu yang dilarang dalam sastra, yakni menggolongkan karya ilmiah sebagai karya sastra. Maka, pendapat apapun senantiasa terbuka dan bebas untuk diutarakan. Hal tersebut diperkuat lagi bahwa dalam ruang sastra tidak terbatas oleh sekedar hukum yang ajeg atau dengan prinsip yaitu “demi estetika, etika terbuka untuk dilangkahi”. Meski pendapat ini mulai ditinggalkan, namun realitas hari ini tidak menyangkal prinsip itu.

Sejalan dengan itu, dunia sastra dapat dipastikan tidak lepas dari dunia bebas. Dunia yang tidak bersekat dan berbatas, seluruh ruang yang tertutup selalu terbuka. Bahkan, dalam dunia sastra tidak dilarang memerankan diri sebagai tuhan. “Kebebasan berekspresi” demikian prinsip orang Eropa dalam berkarya. Kebebasan dalam ruang sastra tersebut dikarenakan ketika kembali ke dalam dunia imajinasi, tak ada batasan dalam dunia imajinasi. Tentu, jika dikembalikan kepada hukum-hukum yang sudah ajeg, banyak diantara karya sastra yang menjadi “haram”.

Perbedaan, baik komparatif atau pun kontrastif, antara imajinasi dan ilmiah sangatlah terang. Bukan maksud untuk membatasi yang ilmiah, dan memperbebas imajinasi, bukan. Akan tetapi akan sangat mustahil jika imajinasi dianggap ilmiah, kemustahilan di sini bukan dalam hal klaim melainkan dalam hal justifikasi atau pun falsifikasi. Jika dikatakan bahwa ilmiah bermula dari imajinasi maka ini wajar dan diterima, akan tetapi bila dikatakan bahwa imajinasi itu ilmiah, maka sama dengan mengatakan sastra itu ilmiah, ini merupakan kesalahan. Kenapa? Karena disebut karya disebut sastra jika karya tersebut bukan berupa ilmiah.

Dengan demikian, masalah yang justeru timbul adalah ketika imajinasi dianggap ilmiah, meski tanpa didukung oleh bukti yang menguatkan. Berbeda dengan kebebasan yang dianut imajinasi sebagaimana telah disebut, ilmiah selalu memiliki batasan dan terbatas di sisi lain memang landasar dasar atau tolok ukur disebut ilmiah apabila didukung dengan bukti yang dapat dibuktikan. Dengan kata lain, bukti merupakan tolok ukur ilmiah atau tidak keilmiahan sesuatu. Maka, bagaimanapun imajinasi tetaplah imajinasi, dan ilmiah tetaplah ilmiah. Boleh-boleh saja menjadikan imajinasi sebagai ilmiah, jika bukti ditemukan dan diteliti kemudian membenarkan imajinasi. Apabila terjadi yang demikian, maka hasil imajinasi tersebut bukan bagian dari sastra.

Masalah pokok yang hendak diulas di sini adalah “imajinasi yang dianggap ilmiah”. Sebagaimana telah diketahui, salah satu syarat sebuah karya disebut karya sastra apabila tidak ilmiah. Dalam hal ini, akan menjadi masalah bila suatu karya yang semestinya karya sastra—karena tidak ilmiah—diklaim sebagai karya ilmiah. Terlebih lagi dijadikan rujukan dalam rangka pembangunan manusia dan kemanusiaan yang berbingkai peradaban. Kekhawatiran dari kejadian seperti demikian adalah ketika imajinasi itu bukanlah merupakan—sengaja atau tanpa sengaja—imajinasi yang menghargai nilai kemanusiaan, karena akibat yang ditimbulkan sungguh luar biasa.

Oleh karena itu, setiap karya yang merupakan imajinasi namun diramu dalam bentuk ilmiah hendaknya diperhatikan baik dari segi sisi pembaca dan pengkaji. Setelah pemaparan pendahuluan di atas, dapat diambil pelajaran bahwasannya kita mesti membedakan imajinasi dan ilmiah. Perlakukan yang imajinasi sebagai imajinasi dan pelakukan yang ilmiah sebagai yang ilmiah.

B. Objek dan Hasil Kajian

Karya Charles Darwin merupakan salah satu contoh nyata ketidakadilan respon atau tanggapan terhadap suatu karya sastra. The Origin of Species tidak dimaksudkan oleh penulisnya—di awal penulisan—sebagai suatu karya ilmiah, melainkan imajinasi saja. Akan tetapi, melihat gelagat khalayak membuat karya tersebut lebih dianggap karya ilmiah ketimbang karya sastra. Maka di sinilah kesalahan jama’i (bersama) dilakukan bersama-sama. Sebuah karya yang semestinya sekedar hiburan justeru menjadi panutan, bahkan menjadi rujukan tokoh-tokoh besar dunia. Maka, untuk sekedar menjadi perhatian bahwa suatu karya hendaknya tidak dilihat dari sekedar “iya, ada di alam nyata” tapi juga mesti mengambil dalil bukti yang dapat dibuktikan.

Kemudian hasil dari memperhatikan hasil imajinasi Darwin ini kita sadari bahwa seharusnya kita proporsional dalam memperlakukan suatu karya. Tulisan ini dihadirkan untuk semua agar hendaknya berhati-hati dalam menilai sesuatu, menjaga agar tidak terjebak dalam kubangan kesalahan secara bersama-sama. Sebab, jika kesalahan telah disepakati, maka untuk mengubah paradigma sangatlah hampir tidak mungkin.

B. Kerangka Teori : Imajinasi

Dunia imajinasi dunia bebas tanpa sekat dan batas. Jika dunia nyata, terbatasi oleh ruang dan waktu, hukum dan peraturan, moral dan susila, estetika dan kelestarian, maka dunia imajinasi tak mengenal semua itu. Seluruh kebebasan di dalamnya berlaku dengan sebebas-bebasnya, seluas-luasnya, kebebasan yang tanpa pernah menggeser patok kebebasan atau pun pihak yang lain. Imajinasi tak pernah sempit menghimpit.

Bermula dari imajinasi berakhir dengan berdiri-tegaknya peradaban yang dibangun dengan segala kedigdayaan dan kemewahan. Bahkan etika dan estetika lahir dengan didahului imajinasi. Saking sedemikian besar sumbangsih imajinasi bagi hidup dan kehidupan manusia hingga dikatakan pemilik jasa terbesar adalah imajinasi atau lebih ekstrim, keseluruhan hidup didasarkan pada keberadaan imajinasi. Hampir-hampir, imajinasi disetarakan dengan Sang Pencipta Imajinasi.

Pujian dan sanjungan atas imajinasi dari jaman terdahulu, sampai pada jaman sekarang, dan di masa mendatang tak pernah lekang. Ini merupakan sebuah fenomena yang tidak pernah habis untuk dikaji, bukan hanya imajinasinya, tetapi juga akibat dari imajinasi itu. Kehadiran imajinasi pula, banyak hal diubah, digeser, dan diganti. Imajinasi-imajinasi baru terus lahir, terlepas dari besar-kecil, direalisasikan atau tidak, namun tetap setelah sekian lama imajinasi lama akan dianggap tertinggal maka nyatalah hasil dari imajinasi baru.

Membicarakan imajinasi tentu akan lebih banyak didapati pada anak-anak karena mereka memiliki daya imajinasi dalam hampir setiap geraknya, semua tingkah polah anak yang menjadi hiburan tersendiri bagi orangtua. Sehingga wajar jika rumah akan bertambah ramai jika ada seorang anak karena memang hal-hal yang dilakukan sering tidak terduga, cenderung baru dan tentu unik. Kepolosan dan keluguan anak tidak dapat ditemukan pada masa selanjutnya, maka pada masa inilah imajinasi dapat diperoleh secara lebih murni.

Joseph Joubert, seorang penulis Prancis pernah menuliskan, “imajinasi adalah mata sang jiwa.” Jika demikian, sesungguhnya semua orang memiliki imajinasi, sebab semua orang memiliki jiwa. Namun, apa sebenarnya imajinasi itu? Sebagaimana telah diketahui, dalam kaitannya dengan sastra bahwa setiap karya sastra tidak akan lepas dari imajinasi. Karya berbentuk apapun senantiasa terkait dengan imajinasi. Dan perlu diakui bahwa adanya karya tidak lebih karena adanya imajinasi. Lewat imajinasi, pengarang dapat mengungkapkan hal-hal yang sublim, yang terkadang kurang dirasakan dalam realitas kehidupan. Unsur imajinasi tidak bisa dilepaskan di dalam karya sastra, walaupun misalnya pengarang ingin menggambarkan hal yang faktual dari peristiwa namun tetap saja ada unsur imajinasinya.

Bagi seniman—tentu termasuk juga sastrawan, imajinasinya harus terus terasah. Sebab, dunia seni atau sastra adalah dunia yang bergelut, bahkan sangat identik, dengan dunia imajinasi itu. Dengan demikian peran imajinasi dalam dunia sastra menjadi sangat penting, senantiasa terkait.

Selain itu, bergaul dengan sastra menurut Tarigan dapat mengembangkan imajinasi dan membantu mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan/ dalam berbagai cara. Sebagaimana telah dikatakan, selain pengetahuan dan wawasan, imajinasi merupakan salah satu perangkat utama dalam menulis. Realitas yang dilihat dalam hidup sehari-hari adalah dunia fakta, dapat dilihat secara langsung oleh mata-fisik. Namun, seorang pengarang, tidak cukup memakai “mata-fisik” saja untuk melihat realitas itu. Ia harus memakai imajinasi yang dapat juga disebut sebagai “mata jiwa.”

Jean-Paul Sartre menjelaskan dengan luas mengenai imajinasi pada dua bukunya, Being and Nothingness dan buku Imagination. Ia mengatakan bahwa yang disebut dengan imajinasi erat hubungannya dengan dikotomi persepsi. Imajinasi tampak sebagai salah satu jenis—jika terbagi—persepsi, hanya saja ditanggapi secara atau di dalam batin, sempurna dan lengkap, dan multi-dimensional. Ketika imajinasi dikatakan memiliki dimensi, apa yang dimaksud oleh dimensi di sini? Seperti melihat koin jatuh, misal, kita bisa menanggapi bentuknya, warnanya, tapi hanya satu sisi saja, sedangkan untuk sisi yang lain semuanya hanya terbentuk sebagai suatu tanya. Berbeda dengan imajinasi, pada sisi yang tidak tampak tersebut kita dapat menjawab warnanya, bentuknya, dan sebagainya. Karena di dalam imajinasi tidak ada yang mustahil, maka tindakan demikian tidak dapat dipersalahkan meskipun antara imajinasi dan fakta tidak bersesuaian. Kita dapat mengerti bahwasannya imajinasi merupakan tindakan abstrak sepihak seseorang.

Menurut Aristoteles, De Anima, menuturkan bahwa imajinasi merupakan gambaran yang di sana tidak terdapat persepsi, dan imajinasi bisa salah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa konsep kebebasan dalam imajinasi benar tidak terbatas. Ketidakadaan persepsi menjadikan imajinasi bergerak bebas melayang melangkah tanpa dikekang oleh apapun, karena, adanya persepsilah yang membatasi imajinasi.

Sedangkan perihal salah dan benar dalam imajinasi bukan berarti sama dengan benar salah sebagaimana hukum dan etika. Di dalam imajinasi, banyak hal keliru bila tinjauannya didasarkan hukum dan etika. Sebagaimana halnya fiksi, imajinasi menggerakkan segala hal sehingga hal yang diam pun boleh bergerak dan yang bergerak boleh diam. Kesemuanya dibungkus rapi dalam imajinasi yang tak terbatas itu sebagai yang tidak mungkin menjadi mungkin.

C. Charles Darwin, Riwayat dan Pendidikan

Ini adalah bagian penting yang tidak layak untuk dilewatkan. Untuk mengenal karya, kita perlu mengenal pencetus karya tersebut. Sebagaimana telah diketahui, pencetus karya dianggap sebagai asal-usul karya sastra. Kutha Ratna (2009 : 56) mengatakan, arti sebuah karya sastra dengan demikian secara relatif sama dengan maksud, niat, pesan, dan bahkan tujuan-tujuan tertentu pengarang. Karya sastra pada gilirannya identik dengan riwayat hidup, pernyataan-pernyataan pengarang dianggap sebagai suatu kebenaran, dengan kata lain biografi mesubordinasi karya. Oleh karena itu, mengenal biografi pencetus suatu karya menjadi sangat penting.

Selain itu, Teeuw (1988 : 155-169) dalam Kutha Ratna mengatakan pengarang telah dibicarakan sejak abad pertama, melalui tulisan Longinus, yang menjelaskan peranan perasaan dalam proses mencipta. Pernyataan Teeuw mengisyaratkan kepada kita bahwa sebuah kritik memang semestinya tidak dilepaskan dari keberadaan pencetus karya. Meskipun dalam pendekatan objektif nampak sekali bahwa teks hidup di atas dirinya sendiri, namun bagaimana pun tetap peran pencetus melekat pada karya setidaknya pengaruh konteks. Pengaruh pencetus tidak dapat dihilangkan begitu saja dari karya.

Demikian pula dengan esai karya Darwin, Natural Selection yang merupakan bagian dari The Origin of Species, pengaruh pencetus tidak dapat dilepaskan. Maka, mengenal pencetus menjadi suatu keharusan yang tak semestinya dilewatkan.

Melihat beberapa literatur, biografi Darwin dapat disusun sebagai berikut. Nama lengkap Darwin adalah Charles Robert Darwin. Ia dilahirkan pada 12 Desember 1809 bertempat di kediaman keluarganya yang kaya di the Mount House, di Shrewsbury, Shropshire, Inggris. Ia anak kelima dari enam bersaudara. Ayahnya seorang dokter, Robert Darwin dan ibunya Susannah Wedgwood. Kakeknya, Erasmus Darwin dari pihak ayah dan Josiah Wedgwood (1730—1795) dari pihak ibunya. Keduanya merupakan keluarga terkemuka di Inggris. Selain itu, dari sisi religius, keluarga Darwin-Wedgwood merupakan keluarga yang mendukung gereja Unitarian. Ibunda Darwin meninggal dunia ketika Darwin masih berusia delapan tahun. Sedangkan Darwin sendiri meninggal dunia di Downe, Kent, Inggris, pada 19 April 1882 dengan umur 72 tahun. Sebagai tanda pengakuan terhadap kehebatan Darwin, ia dikebumikan di Westminster Abbey, bersama dengan William Herschel dan Isaac Newton. Hingga kini ia merupakan tokoh yang dihormati. Semasa hidupnya dan setelah kematiannya, Charles Darwin terkenal secara internasional sebagai ilmuwan berpengaruh yang meneliti topik-topik kontroversial.

Riwayat pendidikan Darwin dimulai setahun sebelum kematian ibundanya. Darwin bersekolah di Sekolah Shrewsbury, ia tinggal di asrama sekolah tersebut. Berkat kekayaan orang tuanya, Darwin dapat mengenyam pendidikan yang bagus dan baik. Selama dalam pendidikan, banyak waktu yang digunakan Darwin hanya sekedar bersenang-senang, meluahkan hobi berburunya, bermain-main dengan anjing dan menangkap tikus. Kondisi seperti itu membuat khawatir ayahnya tentang masa depannya terlebih lagi jika membawa malu pada keluarga. Maka dimasukkanlah Darwin ke jurusan kedokteran meskipun sejak dini ia tertarik dengan biologi, hanya untuk menyenangkan ayahnya, ia mengambil studi kedokteran.

Selanjutnya karena ayahnya yang tidak gembira karena anaknya tidak berminat untuk menjadi dokter, pada tahun 1827, diam-diam mendaftarkannya dalam sebuah program Bachelor of Arts di Christ’s College, Universitas Cambridge, untuk menyiapkannya menjadi pendeta. Namun, selama di Cambridge, Darwin belum berubah dan bahkan ia memperoleh hobi baru, ia lebih suka menunggang kuda dan menembak ketimbang belajar. Bersama sepupunya, William Darwin Fox, ia tenggelam dalam kegemaran.

Darwin khususnya sangat tertarik akan tulisan-tulisan William Paley, termasuk argumen tentang rancangan ilahi dalam alam. Dalam ujian-ujian akhirnya pada Januari 1831, ia berhasil dengan baik dalam teologi dan karena ia belajar keras dalam studi klasik, matematika dan fisika, ia muncul pada peringkat 10 dari 178 mahasiswa yang lulus. Tulisan lain yakni tulisan Alexander von Humboldt, Personal Narrative, juga merupakan salah satu tulisan yang mempengaruhi pemikiran Darwin.

Dalam satu kesempatan, Henslow memberikan rekomendasi agar Darwin menjadi pendamping Robert FitzRoy, kapten HMS Beagle, dalam sebuah ekspedisi lima tahun untuk menjelajahi garis pantai Amerika Selatan. Hal ini akan memberikan Darwin kesempatan yang berharga untuk mengembangkan kariernya sebagai seorang naturalis. Perjalanan ini menjadi ekspedisi lima tahun yang menyebabkan perubahan-perubahan dramatis dalam banyak bidang ilmu pengetahuan.

Darwin diundang untuk mendampingi Kapten Robert FitzRoy di kapal HMS Beagle. Pada waktu itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa kapten kapal mempunyai pendamping selama ekspedisi kapal yang biasanya berlangsung selama bertahun-tahun. Karena kedudukan Kapten FitzRoy yang cukup tinggi, hanya seorang ‘gentleman’ yang dapat menjadi pendampingnya.

Survey Beagle berlangsung lima tahun. Darwin menghabiskan dua pertiga dari waktunya ini untuk menjelajani daratan. Ia menyelidiki beraneka ragam penampilan geologis, fosil dan organisme hidup, dan menjumpai beraneka ragam manusia, baik masyarakat pribumi maupun kolonial. Secara metodik ia mengumpulkan sejumlah besar spesimen, banyak di antaranya baru bagi ilmu pengetahuan. Hal ini mengukuhkan reputasinya sebagai seorang naturalis dan menjadikannya salah seorang perintis dalam bidang ekologi, khususnya pemahaman tentang biokoenosis. Catatan-catatan terincinya yang panjang lebar memperlihatkan karunianya untuk membangun teori dan membentuk dasar bagi pekerjaannya di kemudian hari, serta memberikan pemahaman antropologis sosial, politik yang mendalam tentang daerah-daerah yang dikunjunginya.

Dalam pelayaran itu, Darwin membaca buku Charles Lyell, Principles of Geology. Di sana dijelaskan mengenai penampilan geologis sebagai akibat dari proses bertahap selama berbagai periode yang panjang. Di Amerika Selatan ia menemukan fosil-fosil mamalia raksasa yang telah punah, termasuk megatheria dan gliptodon. Sesekali ia mengangggap mereka serupa dengan spesies-spesies di Afrika, tetapi setelah pelayaran Richard Owen memperlihatkan bahwa sisa-sisa itu berasal dari binatang-binatang yang terkait dengan makhluk-makhluk hidup di tempat yang sama.

D. Imajinasi Seleksi Alam

Dalam proses pembangunan teorinya, karena khawatir terhadap kritikan dari kaum ilmuwan dan agamawan, Darwin menghabiskan puluhan tahun untuk mengembangkan teori-teori evolusinya, dan pada umumnya secara rahasia.

Darwin sudah sejak lama berpikir tentang teori evolusi. Menurutnya bahwa semua species berhubungan satu sama lain. Bertitik tolak dari hal ini maka jika dikembalikan ke titik semula, seluruh makhluk memiliki “common ancestor” yaitu bermula dari satu garis keturunan. Melalui mutasi lahirlah spesis baru. Namun, ada satu hal yang sulit bagi Darwin untuk menjelaskan yaitu mekanisme atau proses perubahan hingga lahirnya spesis baru itu.

Adalah Thomas Malthus yang merupakan rujukan Darwin dalam kondisi stak. Menurut Malthus bahwa populasi manusia bertambah lebih cepat daripada produksi makanan, sehingga menyebabkan manusia bersaing satu sama lain untuk memperebutkan makanan. Mendapati pendapat ini Darwin merasa girang dan tentu ia menggunakan mekanisme ini untuk menjelaskan teorinya. Ia menulis: “Manusia cenderung untuk bertambah dalam tingkat yang lebih besar daripada caranya untuk bertahan. Akibatnya, sesekali ia harus berjuang keras untuk bertahan, dan seleksi alam akan mempengaruhi apa yang terletak di dalam jangkauan ini.” Kemudian Darwin menghubungkan hal ini dengan temuan-temuannya mengenai spesies-spesies yang terkait dengan tempat-tempat, penelitiannya tentang perkembangbiakan binatang, dan gagasan tentang “hukum seleksi alam” (Natural Selection).

Menjelang akhir 1838 ia membandingkan ciri-ciri seleksi para peternak dengan seleksi alam menurut teori Malthus dari varian-varian yang terjadi “secara kebetulan” sehingga “setiap bagian dari struktur yang baru diperoleh sepenuhnya dipraktikkan dan disempurnakan”, dan menganggap bahwa ini adalah “bagian yang paling indah dari teori saya” tentang bagaimana spesies-spesies itu bermula.

Darwin yakin akan kebenaran evolusi, namun untuk jangka waktu yang lama ia sadar bahwa transmutasi spesies dihubungkan dengan penyangkalan terhadap Tuhan. Terlebih lagi hasil observasinya sangat radikal, terutama di zaman itu, Inggris di zaman Victoria. Jadi, penerbitan teorinya dapat mengancam reputasinya. Hingga pada Mei 1839 laporan FitzRoy diterbitkan, jurnal dan catatan-catatan Darwin pun mendapat sambutan hangat. Pada tahun yang sama, tulisan itu diterbitkannya sendiri, laku keras dan kini dikenal sebagai The Voyage of the Beagle (Pelayaran Beagle).

Di tahun 1859, buku The Origin of Species diterbitkan dan, secara tidak diduga, menjadi laku keras dan kontroversial. Buku satu ini diterbitkan karena adanya dorongan dari Alfred Russel Wallace. Wallace sendiri juga menulis tentang ide serupa dan mengirimkannya ke Darwin. Darwin dinasehatkan untuk secepatnya menyelesaikan tulisannya. Buku satu ini merupakan karya Darwin yang paling terkenal sampai sekarang hingga boleh dikatakan sebagai Master piece.

Walaupun Darwin tidak membahas evolusi manusia secara terang-terangan, bukunya mendapat tantangan keras, baik dari kaum ilmiah, maupun masyarakat, terutama pihak gereja. Di periode yang sulit ini, Darwin didampingi oleh salah satu kawan setianya, Thomas Huxley, yang dijuluki “Darwin Bulldog”. Secara jitu dan tajam, Huxley membela Darwin teori dari serangan-serangan. Salah satu episode yang terkenal ialah debat antara Huxley dengan Bishop Samuel Wilberforce.

E. Imajinasi Darwin sebagai Sejarah

Dalam catatan sejarah, tidak sedikit para tokoh dunia menggunakan teori Darwin sebagai landasan pergerakan mereka. Kita tahu bahwa dua Perang Dunia pada abad 20 merupakan catatan hitam dalam daftar sejarah dunia. Sebanyak 65 juta jiwa manusia dikorbankan hanya untuk memenuhi ambisi semata. Diantara jumlah korban yang begitu banyak, separuhnya adalah anak-anak, wanita, dan orang tua yang tidak terlibat apapun dengan perang. Dunia terjangkiti penyakit gila yang luar biasa.

Perang Dunia I meletus pada tahun 1914. Selama empat tahun dunia banjir darah oleh tumbal peperangan. Peristiwa ini belum pernah terjadi dalam sejarah panjang umat manusia, meskipun akan disusul dengan pertumpahan darah yang lebih mengerikan, yaitu terjadinya Perang Dunia II tahun 1945. Apakah akan menyusul Perang Dunia III, yang pasti akan lebih mengerikan.

Pada masa dua perang dunia, keadaan manusia sungguh mengenaskan. Hidup terkatung-katung. Dunia seperti terjangkiti penyakit gila yang luar biasa. Rasa kasih sayang seolah telah sirna, terlebih bila telah dipisah oleh garis bernama wilayah negara. Perang antarmanusia tidak lagi menghiraukan etika berperang. Selama kemenangan bisa dicapai, apapun cara seolah layak dilakukan. Tak lagi peduli dengan siapapun yang menjadi korban, kemenangan lebih mahal dari segalanya. Begitu mudahnya mengorbankan nyawa? Pada saat itu, hidup pun tidak seperti hidup. Dan sesungguhnya, pemikiran apakah yang merasuki sehingga penyakit gila dapat merata di seluruh tanah ini.

Perang telah ada hampir sejak keberadaan manusia itu sendiri. Kebutuhan ekonomi dan politik yang saling bersaing merupakan pendorong manusia untuk melawan satu sama lain, mengangkat senjata untuk saling mengalahkan. Darah, air mata, nyawa tak lebih berharga dibanding beberapa petak tanah yang diperebutkan.

Abad 20 merupakan masa yang di dalamnya terjadi reformasi dalam perang. Hanya model atau gaya peranglah yang membedakan antara perang yang dahulu dengan kini ada. Hingga awal abad 20, perang masih dilakukan dengan cara frontal yaitu masing-masing serdadu berhadapan di garis depan medan pertempuran. Sehingga, para serdadu saja yang terbunuh. Namun, pada awal abad 20, satu model baru berperang diperkenalkan. Taktik atau strategi melumpuhkan tentara dengan melemahkan perekonomian dilakukan yaitu dengan menyerang sumber penghasilan (pasar) meski pelaku ekonomi ini bukan mutlak musuh yang semestinya diikutsertakan dalam perang. Inilah cara perang yang ada sekarang, sehingga wajar jika hampir di setiap medan peperangan selalu saja orang tak berdosa hadir sebagai mayat di akhir peperangan.

Dua Perang Dunia yang menelan korban sekitar 65 juta nyawa, belum usai selama penyebab perang itu masih ada. Permasalahan ekonomi dan politik pada dasarnya bukanlah masalah sentral dalam perang tersebut. Akan tetapi, ada sebab lain yang perlu kita memandang ke arahnya dengan pandangan tajam sehingga kita tidak menurut langkah-langkah salah mereka dan sekaligus kita mengabarkan kepada yang lain akan berita ini.

Pada pemaparan imajinasi pada pendahuluan, telah dikatakan di sana bahwasannya dunia imajinasi adalah dunia bebas tanpa batas. Kebebasan tersebut akan terus bebas jika kemudian menghasilkan karya sastra, karena pada dasarnya karya sastra tidak terikat oleh apapun. Tetapi, jika hasil imajinasi itu kemudian berwujud sebagai karya ilmiah, maka di sana terdapat beberapa batasan, yaitu memiliki bukti yang dapat dibuktikan. Melalui simpulan tersebut dimengerti bahwa imajinasi yang melahirkan kebebasan pula tidaklah semestinya menjadi panutan.

Natural Selection karya Charles Darwin merupakan salah satu contoh karya imajinasi bebas yang dianggap ilmiah, maka akibatnya adalah manusia berperilaku bebas tanpa batas dalam kehidupan nyata. Bukan tanpa sebab, karena dari awal kemunculannya telah mendoktrin bahwa manusia tidaklah berbeda dengan binatang yang lain karena memiliki common ancestor yang sama. Penyamaan ini secara tidak langsung mengatakan bahwa manusia sebagaimana binatang buas, ia diperbolehkan mengorbankan manusia lain demi kepentingannya. Bencana kemanusiaan akibat Darwinisme benar-benar nyata.

Hal tersebut di atas, merupakan gagasan Darwin sebagaimana tercantum dalam Natural Selection-nya. Setidaknya ada tiga hal pokok yang menjadi sebab pecahnya berbagai perang yang mengorbankan nyawa sehingga nyawa seolah tak lebih berharga. Ketiga hal pokok tersebut adalah :

(a) Struggle for existence (perjuangan untuk bertahan) yaitu suatu usaha organisme untuk bertahan hidup. Individu dengan variasi yang tidak sesuai dengan kondisi-kondisi yang umum di alam, akan tersingkir. Adapun individu-individu yang memiliki variasi menguntungkan dapat melanjutkan kehidupannya dan memperbanyak diri dengan bereproduksi.

(b) Terjadi seleksi alam, yakni eliminasi variasi yang tidak sesuai dengan lingkungan. Akibatnya. Hanya individu yang memiliki variasi sesuai dengan lingkungan yang akan tetap hidup.

(c) The survival of the fittest (bertahan hidup bagi yang paling bugar) merupakan kelestarian yang didapat dari organisme yang memiliki kualitas paling sesuai dengan lingkungan. Individu-individu yang dapat hidup akan mewariskan variasi-variasi tersebut kepada generasi sebelumnya.

Ketiga hal pokok di atas menjadi pondasi peperangan yang melibatkan hampir seluruh belahan dunia. Mengapa? Jawabannya adalah karena manusia menggunakan teori imajinasi sebagai landasan pergerakannya. Yang kuat adalah yang menang mestinya tidak digunakan manusia dalam memandang manusia yang lain. Namun, kenyataan tersebut menyebar setelah hadirnya teori Darwin bahwa seleksi alam menghendaki yang demikian. Lebih fatal, kebanyakan orang berpikir bahwa perang merupakan kebutuhan yang dengannya membawa banyak manfaat. Sehingga, ketika deklarasi perang merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Para petinggi dengan bangga mengirimkan serdadunya ke medan perang, layaknya melempar umpan ketika memancing.

Kesalahan mereka jelas sekali disebabkan oleh ajaran Darwinisme. Bukan tanpa dasar, senada dengan seorang ahli sejarah Amerika, Thomas Knapp, mengatakan, “Perang itu bukanlah hal yang mengejutkan. Perang sebenarnya telah diperkirakan oleh kalangan Eropa secara luas sekitar sepuluh tahun sebelum 1914. Bahkan ada cukup bukti untuk menunjukkan bahwa orang Eropa dari sejumlah pihak menyambut datangnya perang. Perang dianggap menyucikan, menggairahkan, membuat muda kembali. Sistem pendidikan di sebagian besar Eropa telah dimasuki oleh sikap semacam mental bersaing dari paham Darwinisme sosial dimana perang dilihat sebagai hal yang menyemangati dan memuliakan.”

Telah kita ketahui bahwa Darwinisme Sosial adalah penerapan teori Darwin dalam masyarakat. Di dalam teorinya, yang sebenarnya imajinasi bebas yang tidak semestinya dipandangan untuk dijadikan rujukan, Darwin menyatakan bahwa seluruh makhluk di alam terlibat dalam pertarungan untuk bertahan hidup. Dan jelas kita telah mengetahui bahwa menurutnya manusia merupakan bentuk lanjutan dari hewan yang memenangkan pertikaian.

Teori yang keliru tersebut, yang tampak ilmiah sehingga dapat diaplikasikan, merupakan teori yang dijadikan landasan sehingga pecahlah Perang Dunia I serta sejumlah becana kemanusiaan lainnya.

Selain pernyataan ahli sejarah di atas, catatan pribadi para pemimpin di masa itu menunjukkan bahwa mereka terpengaruh oleh Darwinisme sosial. James Joll (1990 : 164) mengatakan, “Agama, ajaran akhlak dan pandangan filsafat yang penuh kasih sayang, terkadang mampu melemahkan perjuangan manusia untuk bertahan hidup dalam bentuknya yang paling kasar, namun takkan pernah berhasil menghilangkannya sebagai sumber penggerak dunia. Sesuai dengan prinsip besar inilah bencana perang dunia terjadi sebagai akibat kekuatan penggerak dalam kehidupan negara dan masyarakat, bagaikan badai yang secara alamiah harus melepaskan energinya sendiri.”

Selain itu, seorang jenderal pada Perang Dunia I menulis yang darinya dapat diperoleh garis penghubung pengaruh teori Darwinisme dengan perang, M. F. Ashley Montagu (1961 : 76-77) menyatakan, “Perang adalah kebutuhan makhluk hidup. Perang sama pentingnya dengan pertarungan unsur-unsur alam : perang memberikan keputusan yang menurut ilmu kehidupan adalah adil, karena keputusannya berpijak pada sifat paling mendasar dari segala sesuatu.”

Kesimpulannya, Perang Dunia I disebabkan oleh para penguasa Eropa yang percaya bahwa peperangan, pertumpahan darah, penderitaan, dan membuat orang lain menderita semuanya adalah bagian dari hukum alam. Teori Darwin telah mendorong generasi ke arah yang salah ini.

Namun, kesalahan tersebut bukan mutlak kesalahan Darwin. Kesalahan lain adalah, memandang imajinasi yang bebas tanpa batas itu sebagai ajaran yang sesuai dengan kemanusiaan hanya karena ia tampak ilmiah. Maka, cukuplah menjadi pelajaran bagi kita bahwa semestinya memandang suatu karya sastra sebagai karya sastra, dan membedakannya dengan karya ilmiah. Kesalahan bersama seperti ini, semestinya tidak terulang dan tidak diulangi. Hanya disayangkan, pada hari ini masih ada sebagian manusia yang mempercayai teori yang tak menghargai nilai-nilai kemanusiaan itu masih ada dan mempertahankan bahkan membela.

F. Penutup

Albert Einstein mengatakan, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Karena pengetahuan terbatas pada semua yang kita sekarang tahu dan mengerti, sedangkan imajinasi memeluk seluruh dunia, menstimulasi kemajuan, memberi kelahiran kepada evolusi.” Peran penting imajinasi memang tak terelakkan, hanya cara pandangan terhadap imajinasi itu yang perlu diperbaiki. Sudah semestinya memandang imajinasi sebagai imajinasi.

Setiap karya yang merupakan imajinasi namun diramu dalam bentuk ilmiah hendaknya diperhatikan baik dari segi sisi pembaca dan pengkaji. Setelah pemaparan di atas, diambil pelajaran bahwasannya kita mesti membedakan imajinasi dan ilmiah sehingga bencana kemanusiaan tidak menimpa manusia kedua kalinya. Perlakukan yang imajinasi sebagai imajinasi dan pelakukan yang ilmiah sebagai yang ilmiah.

Daftar Pustaka :

id.shvoong.com

plato.stanford.edu

Wikipedia.com

Harun Yahya. Di Balik Tirai Perang Dunia (Video)

William G. Carr. 1982. Yahudi Menggenggam Dunia. Jakarta : Pustaka al-Kautsar

Nyoman Kutha Ratna. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Charles Darwin. The Origin of Species.

dll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: