Sifat Dasar Manusia

Semua benda yang hadir di muka bumi ini tidak memiliki arti terkecuali dengan hadirnya sifat tertentu padanya. Dengan adanya sifat yang melekat padanya, suatu benda memiliki nilai atau kualitas tertentu. Tidak hanya itu, bahkan, ‘ada’ merupakan sifat yang menjadi titik tolak seluruh benda, baik itu ‘ada’ yang wujud maupun ‘ada’ yang meta. Tidaklah bernilai suatu benda tanpa hadirnya sifat padanya.

Manusia merupakan salah makhluk yang hadir di muka bumi, maka ia pun memiliki nilai dengan adanya sifat yang hadir padanya. Sifat ‘ada’ wujud yang menjadi titik tolak tentu hadir padanya. Dengan keber-ada-an tersebut, manusia bisa diketahui, dipahami, dan dinilai, baik secara relatif maupun mutlak.

Kerelatifan dan kemutlakan suatu sifat pada manusia bukan bergantung pada sifat yang dimiliki, tetapi bergantung pada keadaan. Hal tersebut memberitahukan bahwasannya pada dasarnya sifat manusia sama. Antara manusia yang satu dengan yang lain tidak berbeda. Pembedanya adalah keadaan yang terjadi pada masing-masing manusia. Namun demikian, bukan keadaan yang tidak mempengaruhi kepemilikan sifat, ia hanya mempengaruhi penggunaan.

Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang membahas tentang perasaan. Ia mempelajari dirinya. Pembahasan dalam hal ini mencakup banyak hal, terutama tentang perasaan. Manusia memiliki sifat dasar, berdasar pada perasaan, terbagi dalam empat kelompok sifat dasar, yaitu senang, sedih, marah, dan tawa.

Senang. Sifat dasar ini seringkali dialuahkan manusia ketika ia mendapati suatu hal yang dianggap membuat rasa puas dan lega tanpa hati kecewa; gembira tidak sedih; riang ceria dan sebagainya.

Sedih. Sifat dasar manusia yang merupakan luapan emosi seseorang itu mengalami suatu kejadian. Kejadian itu membuat perasaannya miris.

Marah. Salah satu sifat manusia dimana seseorang itu mengalami peristiwa yang membuatnya jengkel, kesal, dan semua hal yang tidak di senanginya

Tawa . Merupakan luapan emosi seseorang ketika dia mengalami suatu peristiwa yang menggelikan. Emosi ini hampir mirip dengan senang, namun sebenarnya emosi ini lebih ekspresif dibandingkan dengan senang.

Mengenai sifat-sifat yang lain, seperti haru, merupakan gabungan dari sifat-sifat tersebut. Dengan demikian, berdasarkan paparan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa setiap manusia itu memiliki emosi yang berbeda-beda. Setiap emosi itu akan timbul atau dirasakan olehnya apabila suatu kejadian dan keadaan memancing emosi untuk timbul dan diluapkan olehnya. Perbedaan yang dimaksud bukan dalam hal kepemilikan, tetapi dalam kerangka ekspresi.

[Dhy Sayang – Bandung, 11 November 2009]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: